Bismillah
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Was-shalatu was-salamu ‘ala asyrofil mursalin, nabiyyina wa maulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in. Wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sahbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin.
Mengapa kita perlu mempelajari dan memahami alam barzakh? Sebab, kita disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan ziarah kubur secara fisik. Ketika seseorang datang ke pemakaman, tujuan utamanya adalah agar ia senantiasa mengingat kehidupan akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ
"Dulu aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur. Sekarang silakan lakukan ziarah kubur, karena ziarah kubur itu dapat mengingatkan kalian terhadap kehidupan akhirat." (HR. Muslim)
Orang yang berziarah kubur seharusnya sadar bahwa sebentar lagi ia akan menyusul mereka yang sudah dimakamkan. Mereka tidak membawa harta atau benda apa pun; satu-satunya yang setia menemani di dalam kubur hanyalah amal perbuatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
"Ada tiga hal yang mengikuti dan mengiringi mayit (ke pemakaman): keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang dua akan kembali pulang, sedangkan yang satu akan tetap bertahan bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali pulang, sementara amalnya akan tetap tinggal bersamanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Selama hidup di dunia, manusia sering kali melimpahkan kasih sayangnya kepada orang tua, pasangan, dan anak-anak. Namun kelak, mereka semua akan meninggalkan kita saat kematian tiba. Jika kita menyadari bahwa orang-orang tercinta tidak dapat membantu sedikit pun ketika kita telah dikuburkan, mestinya kita lebih mencintai amal saleh kita. Amal inilah yang akan menjadi pendamping setia di dalam kegelapan alam kubur.
Pengertian Alam Barzakh
Secara bahasa, barzakh berarti penutup, pemisah, atau pembatas antara dua hal sehingga keduanya tidak dapat saling bertemu atau bercampur. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِۙ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِۚ
"Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing." (QS. Ar-Rahman: 19-20)
Alam kubur dinamakan alam barzakh karena ia menjadi pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۙ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseora
Berdasarkan ayat ini, orang yang telah meninggal dunia tidak akan mungkin bisa kembali lagi ke dunia, baik rohnya saja apalagi beserta jasadnya. Mereka telah berada di alam yang sama sekali berbeda.
Adanya anggapan atau keyakinan di tengah masyarakat bahwa arwah orang mati akan kembali ke rumahnya selama 40 hari adalah keyakinan yang batil dan bertentangan dengan Al-Qur'an. Jika saja roh orang mati bisa kembali ke dunia, mereka tentu tidak akan berdiam diri di rumah, melainkan akan menambah amal saleh sebanyak-banyaknya. Manusia tidak dapat menambah atau mengubah amalnya pasca-kematian karena adanya dinding barzakh tersebut.
Adapun penampakan-penampakan yang sering menyerupai orang yang sudah meninggal dunia, pada hakikatnya itu adalah gangguan dari jin dan setan. Tujuan mereka adalah menakut-nakuti manusia yang masih hidup agar takut dan malas beribadah. Untuk membentengi diri dan rumah dari gangguan setan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan agar kita rutin membaca Surah Al-Baqarah di rumah:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
"Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surah Al-Baqarah." (HR. Muslim)
Fitnah Kubur
Perlu dibedakan antara fitnah kubur dan azab kubur. Fitnah kubur adalah ujian berupa pertanyaan yang diajukan oleh dua malaikat, yaitu Munkar dan Nakir, ketika seseorang telah dimakamkan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan
Maksud dari "ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia" adalah keteguhan untuk tetap istiqamah dalam tauhid dan akidah yang lurus hingga akhir hayat. Sedangkan "ucapan yang teguh di akhirat" adalah kemampuan seorang mukmin untuk menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur dengan mantap. Sebaliknya, orang-orang yang zalim akan disesatkan sehingga tidak mampu menjawab.
Pertanyaan di alam kubur meliputi:
- Man Rabbuka? (Siapa Rabbmu?)
- Ma dinuka? (Apa agamamu?)
- Man nabiyyuka? (Siapa nabimu?)
Kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sama sekali tidak ditentukan oleh kecerdasan hafalan bahasa Arab semasa hidup, melainkan ditentukan oleh kualitas iman dan amal perbuatan. Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَذَلِكَ قَوْلُهُ {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
"Seorang muslim apabila ditanya di dalam kuburnya, ia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah makna firman Allah Ta'ala: 'Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dari Asma binti Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkhotbah dan menceritakan tentang dahsyatnya fitnah kubur. Beliau bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَكُنْ أُرِيتُهُ إِلاَّ رَأَيْتُهُ فِي مَقَامِي هَذَا حَتَّى الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي الْقُبُورِ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ يُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا فَيُقَالُ نَمْ صَالِحًا
"Tidak ada sesuatu pun yang belum pernah ditampakkan kepadaku melainkan aku telah melihatnya di tempatku ini, hingga surga dan neraka. Lalu diwahyukan kepadaku bahwasanya kalian akan diuji di dalam kubur kalian mendekati fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Akan ditanyakan (kepada mayit): 'Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini (Nabi Muhammad)?' Adapun orang mukmin akan menjawab: 'Beliau adalah Muhammad utusan Allah, beliau datang kepada kami membawa bukti-bukti nyata dan petunjuk, maka kami menyambutnya dan mengikutinya.' Lalu dikatakan kepadanya: 'Tidurlah dengan tenang'." (HR. Bukhari)
Orang mukmin yang berhasil menjawab dengan benar akan diperintahkan untuk beristirahat dan tidur dengan tenteram layaknya pengantin yang menunggu pasangannya. Sebaliknya, orang munafik dan ragu-ragu hanya bisa menjawab, "Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku ikut mengatakannya."
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذِهِ الأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا فَإِذَا الإِنْسَانُ دُفِنَ فَتَفَرَّقَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ جَاءَهُ مَلَكٌ فِي يَدِهِ مِطْرَقٌ فَأَقْعَدَهُ قَالَ مَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ صَدَقْتَ...
"Wahai manusia, sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam kuburnya. Apabila seseorang telah dimakamkan dan teman-temannya telah berpisah meninggalkannya, datanglah malaikat yang memegang pemukul lalu mendudukkannya. Malaikat itu bertanya: 'Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini?' Jika ia seorang mukmin, ia akan menjawab: 'Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.' Maka malaikat berkata: 'Engkau benar.' Adapun orang kafir/munafik akan menjawab: 'Ha... ha... aku tidak tahu'." (HR. Ahmad)
Oleh karena itu, disunnahkan bagi peziarah atau orang yang mengantarkan jenazah untuk tidak langsung pulang seusai pemakaman. Dianjurkan berdiri sejenak di dekat kubur untuk mendoakan keteguhan bagi mayit. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa menimbun tanah dengan tangannya sebanyak tiga kali seraya berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ، اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ
"Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, teguhkanlah dia (dalam menjawab pertanyaan malaikat)." (HR. Abu Dawud)
Orang-Orang yang Diselamatkan dari Fitnah Kubur
Terdapat beberapa golongan manusia yang diistimewakan dan dibebaskan oleh Allah dari ujian pertanyaan malaikat di alam kubur, di antaranya:
- Orang yang Mati Syahid di Medan Jihad
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang sahabat: "Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang beriman diuji di dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?" Beliau menjawab:
كَفَى بِبَرِيقِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً
"Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai ujian/fitnah baginya." (HR. An-Nasa'i) - Orang yang Meninggal pada Hari atau Malam Jumat
Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
"Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur." (HR. Tirmidzi)
Meskipun meninggal pada hari Jumat merupakan petunjuk kebaikan (husnul khatimah), hal itu berlaku bagi mereka yang menjaga keimanannya. Adapun orang yang melakukan maksiat berat seperti bunuh diri, ia tetap terhitung su'ul khatimah dan berdosa besar, kapan pun kematian itu terjadi.
Himpitan Alam Kubur (Dhommatul Qabr)
Setiap manusia yang dimakamkan—baik orang kafir, mukmin pelaku dosa, bahkan orang saleh sekalipun—akan mengalami himpitan kubur. Perbedaannya terletak pada kadar dan dampaknya.
Kisah sahabat mulia Sa'ad bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu menggambarkan betapa tidak ada satu pun manusia yang lolos dari himpitan kubur. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang beliau:
هَذَا الَّذِي تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ
"Inilah hamba yang karena kematiannya Arasy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan jenazahnya disaksikan oleh 70.000 malaikat. Sungguh ia sempat dihimpit dengan sekali himpitan kubur, kemudian dilepaskan darinya." (HR. An-Nasa'i)
Dalam riwayat lain beliau menegaskan:
إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
"Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan. Sekiranya ada seseorang yang selamat darinya, niscaya Sa'ad bin Mu'adz lah yang selamat." (HR. Ahmad)
Imam Al-Munawirahimahullah menjelaskan tingkatan himpitan kubur:
- Orang Mukmin Saleh: Dihimpit sebentar saja sebagai bentuk sambutan bumi, lalu segera dilepaskan kembali.
- Orang Mukmin Pelaku Maksiat: Dihimpit dalam durasi yang lebih lama sesuai kadar dosa-dosanya sebelum akhirnya dilepaskan.
- Orang Kafir: Dihimpit secara terus-menerus tanpa henti hingga tulang-tulang rusuknya bersaling silang dan hancur berantakan.
Nikmat dan Azab Kubur
Setelah melalui fitnah dan himpitan kubur, manusia akan memasuki fase berikutnya di alam barzakh, yaitu menerima nikmat kubur atau mendapat azab kubur.
Mengenai azab kubur bagi orang kafir dan zalim, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Firaun dan pengikutnya:
وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
"Dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat): 'Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (QS. Ghafir: 45-46)
Bagi penghuni kubur yang buruk, akan dibukakan pintu ke arah neraka sehingga hawa panas, uap, dan racun neraka sampai kepadanya di dalam kubur.
Dosa-Dosa Sepele Pemicu Azab Kubur
Azab kubur tidak hanya menimpa orang kafir, tetapi juga dapat menimpa seorang muslim akibat perbuatan dosa yang sering dianggap sepele di dunia.
Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda:
إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
"Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan tidaklah keduanya diazab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Salah satunya diazab karena tidak bersuci/tertutup saat buang air kecil, sedangkan yang satunya lagi diazab karena suka mengadu domba (namimah)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi peringatan khusus mengenai kebersihan saat buang air kecil:
اسْتَنْزِهُوا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ
"Bersihkanlah diri kalian dari percikan air kencing, karena sesungguhnya mayoritas azab kubur disebabkan oleh air kencing." (HR. Daraquthni)
Seseorang yang tidak berhati-hati saat buang air kecil—sehingga cipratan najis mengenai pakaian atau tubuhnya tanpa dibersihkan secara benar—dapat menyebabkan salatnya tidak sah dan mendatangkan azab di alam kubur.
Pelajaran Penting
Pembahasan tentang alam barzakh seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan tentang kehidupan kubur. Ia semestinya mendorong kita untuk memperbaiki kehidupan sebelum kematian datang.
Beberapa pelajaran yang dapat direnungkan:
- Kematian pasti datang, dan tidak seorang pun dapat kembali ke dunia untuk memperbaiki amalnya.
- Harta dan keluarga akan meninggalkan kita, sedangkan amal akan tetap menyertai kita.
- Tauhid dan iman harus dijaga hingga akhir hayat, karena itulah bekal menghadapi fitnah kubur.
- Jangan meremehkan dosa, meskipun terlihat kecil di mata manusia.
- Perbanyak amal saleh selama masih hidup, karena kesempatan beramal hanya ada di dunia.
- Doakan orang yang telah meninggal, terutama setelah pemakaman, agar Allah memberikan ampunan dan keteguhan kepadanya.
Alam barzakh merupakan fase yang pasti dilalui setiap manusia. Tidak ada yang dapat menyelamatkan seseorang di sana selain rahmat Allah dan bekal iman serta amal saleh yang telah dipersiapkan selama hidup.
Semoga Allah Ta’ala meneguhkan kita di atas tauhid dan sunnah, memberikan husnul khatimah, serta melindungi kita dari fitnah dan azab kubur. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Poster Ringkasan

*****