بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah#41
📚┃Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah
🖋 ┃Karya : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc, M. Pd. حفظه الله تعالى
- Alumnus LIPIA Jakarta
- Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
🗓┃ Hari & Tanggal : Kamis, 29 Januari 2026 M / 10 Sya'ban 1447
🕰┃ Waktu : Ba'da Maghrib Sampai Selesai
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto Laweyan, Surakarta.
📖┃ Daftar Isi:
Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
TAUHID ULUHIYAH [1]
Tauhid Uluhiyyah dikatakan juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan), dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
Khauf (takut) dalam pelajaran tauhid:
- Takut Thabi’iy (tabiat): Yaitu takut secara naluri manusia seperti takut kepada musuh yang kuat, takut hewan buas dan takut dengan api yang tidak terkendali. Hal ini bukanlah jenis takut ibadah dan tidak menafikan keimanan.
- Takut Ibadah: Yaitu takut kepada Allah disertai dengan rasa pengagungan, perendahan diri dan ketundukan kepada Allah yang melazimkan muncul rasa takwa.
Hal ini dibagi dua:
- Pertama: terpuji (Apabila menimbulkan rasa takut yang mencegahnya melakukan kemaksiatan).
- Kedua: tercela (Apabila rasa takut kepada Allah yang berlebihan dan menyebabkan ia putus asa dari rahmat Allah).
Empat jenis cinta menurut Ibnu Qayyim:
- Mahabbatullah (Cinta kepada Allah): Cinta mendalam kepada Allah SWT, namun ini saja belum cukup.
- Mahabbah Maa Yuhibbullah (Mencintai Apa yang Dicintai Allah): Mencintai hal-hal yang diridhai Allah, seperti amal saleh dan orang takwa
- Al-Hubb Fillah wa Lillah (Cinta Karena dan Untuk Allah): Mencintai karena Allah dan dalam ketaatan kepada-Nya. Ini adalah tingkatan yang sangat penting.
- Al-Mahabbah Ma'allah (Cinta Selain Allah Bersama Allah): Mencintai sesuatu bersama Allah atau bahkan lebih dari Allah, yang termasuk syirik.
- Selain itu, ada pula mahabbah thabi'iyyah (cinta naluriah seperti keluarga) yang bisa menjadi ibadah jika diniatkan benar, serta pembagian lain seperti mahabbah terpuji (mahmudah), tercela (mazmumah), dan naluriah (thabiiyyah).
Jenis roja' (rasa harap kepada Allah) secara umum dibagi menjadi dua, yaitu roja' yang terpuji (benar) dan roja' yang tercela (semu/angan-angan). Roja' terpuji disertai ketaatan dan taubat, sedangkan roja' tercela adalah berharap rahmat tanpa usaha. Ini adalah konsep ibadah hati untuk menyeimbangkan rasa takut (khauf).
- Definisi dan Konteks:
- Isti'anah (إستعانة): Berasal dari kata 'awn (bantuan), artinya meminta pertolongan dan dukungan dalam urusan kebajikan secara umum, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
- Istighosah (إستغاثة): Berasal dari kata ghouts (pertolongan), artinya meminta dihilangkannya kesulitan, bahaya, atau bencana yang sedang menimpa.
- Waktu/Keadaan:
- Isti'anah bisa dilakukan kapan saja.
- Istighosah dilakukan saat dalam kondisi darurat atau musibah mendesak.
- Analogi: Isti'anah seperti meminta bantuan untuk mempermudah pekerjaan sehari-hari, sedangkan istighosah seperti berteriak minta tolong saat tenggelam.
Isti'adzah (الاستعاذة) adalah permohonan perlindungan dan penjagaan kepada Allah ﷻ dari keburukan, khususnya godaan syaitan, yang diucapkan dengan kalimat "A'udzu billahi minasy-syaitanir-rajim" (Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk), dan sangat dianjurkan dibaca sebelum membaca Al-Qur'an untuk menghindari gangguan setan dan menghadirkan kekhusyukan. Istilah ini berasal dari kata 'audz (عاذ) yang berarti berlindung, menunjukkan pengakuan akan kelemahan diri dan berserah diri kepada Allah sebagai satu-satunya Pelindung.
Sungguh, Allah tidak akan ridha jika dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Apabila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada syirkun akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya. [Lihat An-Nisaa/4: 48, 116][Aqiidatut Tauhiid (hal. 36) oleh Dr. Shalih al-Fauzan].
Al-ilaah artinya al-ma’luuh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah/2: 163]
Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 H) berkata: “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, maupun Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Dia (Allah) tidak boleh disekutu-kan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.[Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 63)].
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Mahabijak-sana.” [Ali ‘Imran/3: 18].
📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di:
Ini adalah persaksian paling mulia yang bersumber dari Raja Yang mahaagung, dan dari para malaikat serta orang-orang yang berilmu, atas suatu perkara yang paling mulia yang disaksikan yaitu pengesaan Allah dan penegakanNya akan keadilan. Itu semua mengandung persaksian atas seluruh syariat dan seluruh hukum-hukum pembalasan, karena syariat dan ajaran itu dasar dan pondasinya adalah tauhidullah dan pengesaanNya dalam sifat-sifat keagungan, kesombongan, kebesaran, keperkasaan, kuasa dan kemuliaan, juga dengan sifat kedermawanan, kebajikan, kasih sayang, perbuatan baik, keindahan, dan dengan kesempurnaanNya yang mutlak yang tidak dapat dihitung oleh seorang pun dari makhluk untuk meliputi sedikit pun darinya atau mereka mencapainya atau mereka sampai kepada sanjungan atasNya. Dan ibadah-ibadah yang syari dan muamalah serta hal-hal yang mengikutinya, perintah maupun larangan, semua itu adalah keadilan yang tidak ada kezhaliman padanya, tidak ada kesewenang-wenangan dalam keadaan apa pun, sebaliknya semua itu berada pada puncak dari hikmah dan kepastian, serta balasan terhadap amalan-amalan shalih maupun buruk, semua itu adalah keadilan, "Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu." QS -Al-An’am :19-
Maka tauhidullah, AgamaNya dan pembalasanNYa telah tetap dengan ketetapan yang kuat yang tidak ada keraguan padanya dan ia merupakan hakikat yang paling agung dan paling jelas, Dan Allah telah menegakan hal itu dengan bukti-bukti nyata dan dalil-dalil yang tidak mungkin lagi di hitung dan di jumlah.
Dalam ayat ini terdapat keutamaan ilmu dan ulama, karena Allah mengkhususkan mereka dalam penyebutan tanpa menyertakan menusia lainya. Allah menyandingkan kesaksian mereka dengan kekasihNya, agamaNya, dan pembalasan laiNya. Seorang yang mukallaf wajib menerima kesaksian yang adil lagi benar tersebut, dan termasuk diantara kandungannya adalah membenarkan mereka, bahwa para makhluk mengikuti mereka adalah para pemimpin yang diikuti. Dalam poin terdapat keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan yang tinggi dan tidak dapat diukur kadarnya.
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah#42
🗓️┃ Hari & Tanggal : Kamis, 05 Februari 2026 M / 17 Sya’ban 1447
Tauhid Uluhiyyah [Lanjutan #2]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Lata, ‘Uzza dan Manat (Semua versi muanats - ini adalah bid'ah orang-orang musyrik, Ilhad terhadap nama-nama Allah ﷻ) yang disebut sebagai tuhan oleh kaum Musyrikin:
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan (Sulthan) pun untuk (menyembah)nya...” [An-Najm: 23]
Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” [Al-Hajj: 62]
📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di:
62. “(Kuasa Allah) yang demikian itu,” Dzat yang memegang kekuasaan dan menetapkan hukum-hukum “adalah karena sesungguhnya Dia-lah (Rabb) Yang Haq,” maksudnya yang tetap eksis, senantiasa ada dan tidak akan pupus. Allah bernama al-Awwal, yang tidak ada sesuatu pun yang mendahuluiNya. Dia-lah al-Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelahNya, sempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, jujur dalam janjiNya, yang janjiNya benar-benar terjadi, perjumpaan denganNya pasti, agamaNya benar, peribadahan untukNya itulah (pilihan) yang benar, yang akan bermanfaat lagi lestari dalam keabadian.
“Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah,” berupa arca-arca, tandingan-tandingan dari bangsa binatang dan benda-benda mati “itulah yang batil,” yang memang keberadaannya merupakan kebatilan dan peribadahan untuknya pun satu bentuk kebatilan. Lantaran ia bertumpu pada benda yang lemah lagi binasa, maka ia menjadi batil pula akibat terpengaruh dengan tujuan dan maksudnya yang batil.
Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf Alaihissallam, yang berkata kepada kedua temannya di penjara:
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
“Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu...” [Yusuf: 39-40]
💡 Faedah ayat:
1. Islam mengajak manusia diajak untuk berpikir secara rasional.
2. Keberadaan dalam kesulitan, tidak menghalangi kita untuk berdakwah, seperti yang dilakukan oleh nabi Yusuf alaihissalam.
Tauhid Uluhiyyah merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ , dari Rasul yang pertama hingga Rasul terakhir, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalil secara umum:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu...’” [An-Nahl: 36]
Dan firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Aku, maka ibadahilah olehmu sekalian akan Aku.’” [Al-Anbiyaa’: 25]
Dalil secara khusus:
Dalam surat Al-A'raf ayat 59-60:
لَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ ٥٩
Sungguh, Kami telah mengutus Nuh (sebagai rasul) kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah (karena) tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (hari Kiamat).
قَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٦٠
Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar melihatmu (berada) dalam kesesatan yang nyata.”
Dalam surat Al-A'raf ayat 73:
وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٧٣
(Kami telah mengutus) kepada (kaum) Samud saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagi kamu tuhan selain Dia. Sungguh, telah datang kepada kamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini adalah unta betina Allah untuk kamu sebagai mukjizat. Maka, biarkanlah ia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan keburukan apa pun sehingga kamu ditimpa siksa yang sangat pedih.”
Dalam surat Al-A'raf ayat 85:
وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ ٨٥
Kepada penduduk Madyan, Kami (utus) saudara mereka, Syuʻaib. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada bagimu tuhan (yang disembah) selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka, sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah merugikan (hak-hak) orang lain sedikit pun. Jangan (pula) berbuat kerusakan di bumi setelah perbaikannya. Itulah lebih baik bagimu, jika kamu beriman.”
Semua Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ memulai dakwah mereka kepada kaumnya dengan tauhid Uluhiyyah, agar kaum mereka beribadah dengan benar hanya kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala saja.
Seluruh Rasul berkata kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja. [Sebagaimana perkataan Nabi Nuh, Hud, Shalih dan Syu’aib. Lihat Al-Qur-an pada surat al-A’raaf: 65, 73 dan 85]
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Lalu Kami utus kepada mereka, seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): ‘Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’” [Al-Mukminuun: 32]
Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
Footnote:
[1]. Disadur dari Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 21-32), oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dan ‘Aqiidatut Tauhiid (hal. 36) oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم