بسم الله الرحمن الرحيم
✍🏼Karya : Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad Al-Badr حفظه الله تعالى
٦ . تَقْوَى الْقُلُوبِ
عَنْ أَبي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : لاَ تَحَاسَدوا، وَلاَتَنَاجَشوا، وَلاَ تَبَاغَضوا، وَلاَ تَدَابَروا، وَلاَ يَبِع بَعضُكُم عَلَى بَيعِ بَعضٍ، وَكونوا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، المُسلِمُ أَخو المُسلم، لاَ يَظلِمهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلا يكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقوَى هَاهُنَا – وَيُشيرُ إِلَى صَدرِهِ ثَلاَثَ مَراتٍ – بِحَسْبِ امرىء مِن الشَّرأَن يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسلِمَ، كُلُّ المُسِلمِ عَلَى المُسلِمِ حَرَام دَمُهُ وَمَالُه وَعِرضُه. رواه مسلم ٢٥٦٤.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi dan janganlah sebagian dari kalian bertransaksi jual beli di atas transaksi saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Oleh sebab itu, dia tidak boleh menzaliminya, menipunya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini (Rasulullah menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim 2564).
Melanjutkan pembahasan hadits ini:
Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata tentang pentingnya hati yang sehat: Hati yang selamat adalah hati yang terbebas dari: syirik, iri, dengki, kebencian, hasad, kikir, keserakahan, cinta dunia, dan kedudukan. Karena hati tersebut terbebas dari segala penyakit yang menjauhkan dari Allah, terbebas dari semua perselisihan yang bertentangan dengan kebenaran, dan dari setiap hasrat yang bertentangan dengan ketaatan kepada-Nya, dan keselamatan diri dari setiap kehendak yang bisa menghalangi niat-Nya, serta selamat dari setiap pemutus yang memisahkan dari Allah ﷻ. Inilah hati yang bersih, yang menjadi surga di dunia, menjadi surga di alam barzakh, dan menjadi surga di hari kebangkitan.
Allah ﷻ berfirman:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, [Asy-Syu'ara: 88-89].
Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam Al-Jawaabul Kaafi hal. 121 menjelaskan bahwa Keselamatan seseorang tidak akan sempurna sampai ia selamat dari lima hal:
- Dari kemusyrikan yang bertentangan dengan tauhid.
- Dari bid'ah yang menyalahi sunnah.
- Dari hawa nafsu yang menyelisihi perintah.
- Dari kelalaian yang bertentangan dengan dzikir.
- Dari hawa yang bertentangan dengan ketulusan dan ikhlas.
۞ Penjelasan:
1. Dari kemusyrikan yang bertentangan dengan tauhid.
Allah ta’ala berfirman dalam surat Ad-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dari ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud “liya’buduni” adalah beribadah kepada-Ku baik dalam keadaan patuh maupun terpaksa.
Ini adalah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Semua rasul mengajak untuk beribadah kepada Allah. Maksud dari beribadah kepada-Nya adalah mengenal dan mencintai Allah, juga kembali kepada-Nya, serta berpaling dari selain-Nya.
2. Dari bid'ah yang menyalahi sunnah.
Bid’ah adalah cara baru dalam agama yang dibuat menyerupai syari’at dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah atau untuk mengurangi syariat.
Siapa pun yang berbuat bid’ah dalam agama, walaupun dengan tujuan baik, maka bid’ahnya itu, selain merupakan kesesatan, adalah suatu tindakan menghujat agama dan mendustakan firman Allah Azza wa Jalla :
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maa-idah/5: 3].
Karena dengan perbuatannya tersebut, dia seakan-akan mengatakan bahwa Islam belum sempurna, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla belum terdapat di dalamnya.
3. Dari hawa nafsu yang menyelisihi perintah.
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan pengekor hawa nafsu seperti halnya penyembah berhala.
Allah ta’ala berfirman di dua tempat di dalam Kitab-Nya, “Bagaimana pendapatmu tentang keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya?.”
۞ Roudhotul Muhibbin: 1/475-476.
Allah ta’ala berfirman dalam Surat Al-Jatsiyah Ayat 23
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
4. Dari kelalaian yang bertentangan dengan dzikir.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)
Jika perhatian kita kepada Al-Qur’an ,maka kita akan jauh dari ingat kepada Allah ta’ala. Syaitan akan menlalaikan kita dan cinta dunia.
Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi insan yang enggan berdzikir. Kata beliau,
"مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ".
“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu’anhu.
5. Dari hawa yang bertentangan dengan ketulusan dan ikhlas.
Zaman sekarang manusia dilalaikan dengan media sosial yang menghilangkan sifat ketulusan dalam beribadah. Ikhlas dalam beramal adalah memurnikan niat hanya karena Allah ta’ala, bukan mencari pujian atau keuntungan duniawi, menjadikannya pondasi utama amal agar diterima dan bernilai di sisi-Nya. Ciri-cirinya adalah tidak mengharapkan pujian, konsisten meski tidak dilihat orang, merasa cukup dengan balasan Allah, dan mengutamakan keridhaan-Nya. Keutamaan ikhlas adalah sumber kekuatan, ketenangan hati, sabar, dan membuat amal sekecil apapun bernilai pahala besar.
Dan Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu [Al-Hujurat: 13].
Al-Hafizh Ibn Rajab berkata dalam kitab Jami' Al-Ulum wa Al-Hikam (990/3): Kemuliaan seorang makhluk di sisi Allah adalah dengan takwa. Seringkali seseorang yang diremehkan orang karena kelemahan dan sedikitnya rezeki di dunia, sebenarnya lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dibandingkan dengan orang yang memiliki kedudukan di dunia.
Sesungguhnya manusia hanya berbeda-beda sesuai dengan takwa, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Nabi ditanya: Siapakah orang yang paling mulia di antara manusia? Beliau menjawab: Orang yang paling takut kepada Allah (takwa). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3353), dan Muslim (2378).
Dalam hadits lain: Kemuliaan adalah takwa, Diriwayatkan oleh Ibn Abi Ad-Dunya dalam 'Al-Yaqin' (21), dan dianggap lemah oleh Al-Albani dalam 'Daif Al-Jami' (4299). Dan takwa berasal dari hati, sebagaimana Allah berfirman:
وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ
Dan barang siapa yang memuliakan syiar Allah, maka itu termasuk takwa hati [Al-Hajj: 32].
Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta, tetapi Dia melihat pada hati dan amal, sebagaimana dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu ia berkata: Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan amal kalian. [HR. Muslim No. 2564].
Dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang mendorong taqwa, serta menjelaskan buah dan pahala bagi orang-orang yang bertaqwa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan keluasan bagi urusannya [At-Talaq: 4], dan Dia berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan menghapus kesalahannya dan memberikan pahala yang besar baginya [At-Talaq: 5], dan Dia berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka [At-Talaq: 2-3].
Taqwa kepada Allah memiliki kedudukan yang agung dan membawa dampak yang diberkahi, dan setiap kali seorang hamba berusaha keras untuk mewujudkannya, ia akan menemukan kemudahan dalam urusannya, rezeki yang baik, serta jalan keluar yang sesuai untuk setiap masalah yang dihadapinya, sehingga dengan itu ia mendapatkan penghapusan dosa-dosa dan pengampunan, serta derajat yang tinggi.
Taqwa bukan sekadar kata yang diucapkan, atau klaim yang dinyatakan; karena sangat mudah bagi setiap orang untuk berkata: 'Saya termasuk orang yang bertakwa', dan hal itu bukanlah ukuran yang sebenarnya. Ukuran yang benar adalah mewujudkan taqwa, dan menegakkannya sebagai kenyataan di dalam hati seorang hamba.
Arti taqwa adalah menjadikan seseorang merasa terlindungi dari apa yang ditakutinya. Taqwa seorang hamba kepada Tuhannya berarti membuat dirinya terlindungi dari apa yang ditakutinya berupa murka, amarah, dan hukuman-Nya; perlindungan ini dicapai hanya dengan menaati-Nya dan menjauhi maksiat. Allah terkadang memerintahkan untuk bertaqwa, karena Dialah yang patut ditakuti dan diharapkan, dan segala kebaikan yang diperoleh hamba berasal dari-Nya. Terkadang Allah memerintahkan untuk takut dari api neraka seperti firmanNya:
فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُۖ
takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS. Al-Baqarah ayat 24).
Terkadang Allah memerintahkan untuk bertakwa kepada Hari Kiamat, seperti yang difirmankan-Nya:
وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِۗ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَࣖ
Dan bertakwalah kepada Allah pada hari kalian dikembalikan kepada-Nya, kemudian setiap jiwa diberi balasan atas apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak dianiaya [Al-Baqarah: 281].
Al-Qur'an Al-Karim memuat banyak ayat yang menjelaskan makna takwa, menjabarkan maksudnya, dan memperlihatkan sifat-sifat orang bertakwa. Salah satunya adalah firman Allah Ta'ala pada awal Surah Al-Baqarah:
هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa [Al-Baqarah: 2:2], kemudian Allah menjelaskan sifat-sifat mereka, firman-Nya:
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ ٣ وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ ٤ اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ٥
Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu, serta mereka yakin akan adanya akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung [Al-Baqarah: 3-5]. Allah Ta'ala juga berfirman:
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣
Dan berlomba-lombalah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa [Ali Imran: 133], kemudian Allah menjelaskan sifat-sifat mereka, firman-Nya:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ١٣٥
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya). [QS. Imran: 134-135]; disebutkan dari sifat mereka adalah selalu memohon ampun, dan tidak keras kepala dalam berbuat dosa.
Contoh ketakwaan Sahabat:
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ، فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي، فَقُلْتُ: الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟»، قُلْتُ: مِثْلَهُ، قَالَ: وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟» قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللهَ وَرَسُولَهُ، قُلْتُ: لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا
Dari Zaid bin Aslam, dari bapaknya: Aku mendengar Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu berkata: Pada satu hari Rasulullah ﷺ menyuruh kami bersedekah. Hal itu sesuai harta milikku. Aku berkata, “Hari ini aku bisa menyalip Abu Bakar jika aku berlomba dengan beliau suatu hari.” Lalu aku datang dengan membawa separuh hartaku. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, “Harta apa yang engkau pertahankan untuk keluargamu?” Aku katakan, “(Jumlahnya) sama dengan ini.” Umar berkata: Abu Bakar radhiyallahu’anhu lalu datang dengan membawa semua harta miliknya. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, “Harta apa yang engkau pertahankan untuk keluargamu?” Dia berkata, “Aku mempertahankan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Aku (Umar) berkata, “Aku tidak akan mampu menyalip engkau (Abu Bakar) dalam hal apapun selama-selamanya.” (HR Abu Dawud no. 1678, at-Tirmidzi no. 3675, ad-Darimi no. 1701 dan al-Hakim no. 1510).
Sumber: أحاديث إصلاح القلوب Halaman - 55 [Download أحاديث إصلاح القلوب]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم