Bismillah
- Pendahuluan
- Kedudukan dan Keutamaan Kalimat Tauhid
- 1. Kalimat Ikhlas, Kalimat Haq, dan Persaksian yang Benar
- 2. Kalimat Tauhid adalah Dakwah yang Haq
- 3. Kalimat Tauhid Menuntut Berlepas Diri dari Kesyirikan
- 4. Kalimat Tauhid adalah Kalimat Takwa
- 5. Kalimat Tauhid adalah Al-‘Urwah Al-Wutsqa (Tali yang Kokoh)
- 6. Tauhid Merupakan Tujuan Penciptaan
- 7. Karena Tauhid, Allah Mengutus Para Rasul dan Menurunkan Wahyu
- 8. Kalimat Tauhid adalah Kalimat Allah yang Paling Tinggi
- 9. Kalimat Tauhid adalah Kalimat Islam dan Kunci Surga
- 10. Kalimat Tauhid Menjadi Pokok Pertanyaan pada Hari Kiamat
- 11. Kalimat Tauhid adalah Kalimat yang Sama (Kalimah Sawa’)
- 12. Tauhid adalah Hak Allah atas Hamba-Nya
- 13. Kalimat Tauhid Menjadi Sebab Terjaganya Darah dan Harta di Dunia
- 14. Kalimat Tauhid Menjadi Sebab Keselamatan dari Neraka
- 15. Kalimat Tauhid dan Keteguhan Menjawab Fitnah Kubur
- 16. Kalimat Tauhid adalah Kalimat yang Baik
- Sesi Tanya Jawab
- Penutup
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari keburukan diri dan amal kita. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Pada kesempatan ini kita membahas tema yang sangat penting bagi setiap mukmin, laki-laki maupun perempuan, yaitu urgensi kalimat tauhid “Laa ilaaha illallaah”. Kalimat ini merupakan kunci surga, fondasi agama, dan bagian pertama dari dua kalimat syahadat. Namun, kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan. Ia harus dipahami maknanya, diyakini dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal.
Makna kalimat tauhid mencakup dua rukun:
- an-nafyu (penafian), yaitu meniadakan hak peribadatan dari segala sesuatu selain Allah.
- al-itsbaat (penetapan), yaitu menetapkan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah.
Karena itu, pengucapan kalimat tauhid harus disertai ilmu, keyakinan, keikhlasan, dan konsekuensi amal.
Kedudukan dan Keutamaan Kalimat Tauhid
1. Kalimat Ikhlas, Kalimat Haq, dan Persaksian yang Benar
Kalimat “Laa ilaaha illallaah” menegaskan pemurnian ibadah kepada Allah. Persaksian ini bukan ucapan kosong; orang yang mengucapkannya harus mengetahui dan meyakini maknanya. Lisan dan hati mesti sejalan dalam mengakui bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi.
Dalil: Allah berfirman:
وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang mereka seru selain Allah tidak mempunyai (hak) memberi syafaat, kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakininya.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 86).
Imam ath-Thabari rahimahullah, ketika menjelaskan QS. Az-Zukhruf [43]: 86, menafsirkan orang yang bersaksi dengan kebenaran sebagai orang yang mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan keesaan bagi-Nya.
2. Kalimat Tauhid adalah Dakwah yang Haq
Seruan yang paling benar ialah seruan agar manusia beribadah hanya kepada Allah. Adapun seruan yang mengajak kepada peribadatan kepada selain-Nya adalah kebatilan. Para nabi dan rasul diutus untuk menyeru manusia kepada tauhid.
Dalil: Allah berfirman:
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَيْءٍ
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Berhala-berhala yang mereka seru selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 14).
3. Kalimat Tauhid Menuntut Berlepas Diri dari Kesyirikan
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan orang-orang beriman yang bersamanya menjadi teladan dalam menolak kesyirikan dan peribadatan kepada selain Allah. Seorang muslim wajib mengingkari kesyirikan sesuai tuntunan syariat dan kemampuannya. Mengingkari kemungkaran dilakukan dengan tangan bagi yang memiliki kemampuan dan kewenangan, dengan lisan melalui nasihat, atau dengan hati ketika tidak mampu melakukan dua hal sebelumnya.
Dalil: Allah ﷻ berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ ... إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ... Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4; kutipan ayat dipenggal).
Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menjelaskan QS. Al-Mumtahanah [60]: 4, menerangkan bahwa permusuhan yang disebut dalam ayat berkaitan dengan kesyirikan dan berakhir ketika mereka kembali kepada tauhid.
Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 49 dalam penomoran yang umum digunakan).
Penerapan hadis ini harus memperhatikan kemampuan, ilmu, kewenangan, serta pertimbangan agar tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.
4. Kalimat Tauhid adalah Kalimat Takwa
Dalam penjelasan pemateri, kalimat takwa yang Allah tetapkan pada Rasulullah ﷺ dan kaum mukminin adalah kalimat tauhid. Kalimat ini meneguhkan hati orang beriman agar tetap teguh di atas tauhid.
Dalil: Allah ﷻ berfirman:
وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَىٰ وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا
“Dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan kalimat itu dan patut memilikinya.” (QS. Al-Fath [48]: 26).
5. Kalimat Tauhid adalah Al-‘Urwah Al-Wutsqa (Tali yang Kokoh)
Orang yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah telah berpegang pada tali yang paling kuat, yang tidak akan putus. Maknanya mencakup meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah, mentauhidkan-Nya, serta membenarkan ajaran yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Dalil: Allah ﷻ berfirman:
فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا
“Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).
Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dinukil menjelaskan bahwa “al-‘urwah al- wutsqa” adalah persaksian “Laa ilaaha illallaah” dan keyakinan bahwa ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ adalah benar.
6. Tauhid Merupakan Tujuan Penciptaan
Langit, bumi, jin, dan manusia diciptakan dengan hikmah dan kebenaran. Manusia dan jin diperintahkan untuk beribadah kepada Allah semata. Karena itu, kehidupan seorang mukmin seharusnya diarahkan untuk merealisasikan tauhid.
Dalil:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).
7. Karena Tauhid, Allah Mengutus Para Rasul dan Menurunkan Wahyu
Pokok dakwah seluruh rasul adalah menyeru umat agar menyembah Allah dan menjauhi segala sesembahan selain-Nya. Perbedaan syariat pada sebagian hukum tidak mengubah kesamaan pokok dakwah mereka dalam tauhid.
Dalil:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 25).
8. Kalimat Tauhid adalah Kalimat Allah yang Paling Tinggi
Kalimat tauhid mengangkat kedudukan tauhid dan menunjukkan kebatilan kesyirikan. Pemateri menukil penjelasan ulama tafsir bahwa “kalimat Allah yang paling tinggi” dalam ayat ini adalah kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallaah”.
Dalil:
وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا
“Dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah, sedangkan kalimat Allah itulah yang tinggi.” (QS. At-Taubah [9]: 40).
9. Kalimat Tauhid adalah Kalimat Islam dan Kunci Surga
Dua kalimat syahadat merupakan pintu masuk seseorang ke dalam Islam. Kalimat tauhid juga disebut sebagai kunci surga, tetapi kunci ini memiliki hak dan syarat yang harus dipahami dan diwujudkan, bukan sekadar diucapkan tanpa keyakinan dan amal. Kalimat ini menjadi pembeda antara iman dan kekufuran serta menjadi dasar arah ibadah seorang muslim.
10. Kalimat Tauhid Menjadi Pokok Pertanyaan pada Hari Kiamat
Manusia akan ditanya tentang apa yang mereka sembah dan bagaimana mereka menyikapi seruan para rasul. Pertanyaan pertama dijawab dengan merealisasikan tauhid, sedangkan pertanyaan tentang para rasul dijawab dengan beriman kepada Rasulullah ﷺ, membenarkannya, mengikuti sunnahnya, serta mempelajari dan membela kehormatannya dengan cara yang benar.
11. Kalimat Tauhid adalah Kalimat yang Sama (Kalimah Sawa’)
Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk menyeru Ahli Kitab kepada kalimat yang adil dan sama, yaitu agar ibadah hanya diberikan kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, dan tidak menjadikan sesama manusia sebagai sesembahan selain Allah.
Dalil:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا
“Katakanlah, ‘Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 64; kutipan ayat dipenggal).
12. Tauhid adalah Hak Allah atas Hamba-Nya
Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Ini merupakan tujuan penciptaan manusia dan jin, sekaligus kewajiban paling mendasar yang harus ditunaikan setiap hamba.
Dalil:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21).
13. Kalimat Tauhid Menjadi Sebab Terjaganya Darah dan Harta di Dunia
Pemateri menjelaskan hadis tentang orang yang mengucapkan kalimat tauhid dan konsekuensi hukum lahiriah yang terkait dengannya. Penilaian hukum di dunia didasarkan pada hal yang tampak, sedangkan isi hati diserahkan kepada Allah. Hadis ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk bertindak sendiri; penerapan hukum memiliki ketentuan syariat dan kewenangan yang sah.
Dalil hadis (redaksi ringkas):
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah ...” Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan redaksi lengkap yang memiliki beberapa jalur.
14. Kalimat Tauhid Menjadi Sebab Keselamatan dari Neraka
Kalimat tauhid menjadi sebab keselamatan bagi orang yang mengucapkannya dengan benar, ikhlas, dan memenuhi hak-haknya. Namun, menurut penjelasan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang disampaikan pemateri, seorang muslim yang bertauhid tetapi melakukan dosa besar berada di bawah kehendak Allah. Allah dapat mengampuninya atau mengazabnya sesuai keadilan dan hikmah-Nya. Pelaku dosa besar yang meninggal di atas tauhid tidak dihukumi kekal di neraka seperti keyakinan Khawarij.
15. Kalimat Tauhid dan Keteguhan Menjawab Fitnah Kubur
Pemateri mengingatkan bahwa tauhid berkaitan dengan pertanyaan di alam kubur dan keteguhan seorang hamba ketika menghadapi ujian setelah kematian. Karena itu, seorang muslim perlu menjaga iman, memohon keteguhan kepada Allah, dan mengamalkan tauhid sepanjang hidupnya. Ayat yang biasa dijadikan dalil tentang keteguhan ini adalah QS. Ibrahim [14]: 27.
16. Kalimat Tauhid adalah Kalimat yang Baik
Kalimat tauhid diumpamakan dengan kalimat yang baik. Akar dan cabangnya menggambarkan iman yang tertanam serta amal saleh yang tumbuh darinya. Keimanan bukan hanya ucapan, tetapi harus memberi pengaruh pada ibadah dan perilaku seorang hamba.
Dalil:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim [14]: 24).
Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan 1: Apakah Orang yang Mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah Pasti Tidak Diazab?
Penanya menanyakan apakah orang yang mengucapkan kalimat tauhid secara mutlak pasti tidak akan diazab.
Jawaban pemateri: Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, kalimat tauhid menjadi sebab keselamatan, cepat atau lambat. Akan tetapi, sebagian ahli tauhid dapat diazab karena dosa yang mereka lakukan. Nasib pelaku dosa besar berada di bawah kehendak Allah: bisa jadi Allah mengampuninya, atau mengazabnya sesuai dosanya, kemudian ia tidak kekal di neraka apabila meninggal di atas tauhid. Ini berbeda dari keyakinan Khawarij yang menganggap pelaku dosa besar kekal di neraka.
Pertanyaan 2: Bagaimana Menyikapi Orang yang Terus Bermaksiat meskipun Sudah Dinasehati?
Pemateri mengangkat kisah dua orang bersaudara: salah satunya rajin beribadah, sedangkan yang lain sering bermaksiat. Orang yang taat terus menasihati saudaranya, hingga akhirnya ia berkata bahwa Allah tidak akan mengampuni saudaranya.
Jawaban pemateri: Seorang muslim hendaknya menasihati dengan cara yang benar, tetapi tidak boleh memastikan bahwa seseorang tidak akan diampuni Allah atau menetapkan nasib akhir seseorang di neraka. Kisah tersebut mengingatkan bahaya merasa paling baik dan berputus asa dari rahmat Allah. Bisa jadi seseorang yang berbuat maksiat kemudian bertobat, sedangkan orang yang merasa saleh justru terjatuh dalam kesombongan. Karena itu, perbaikilah diri dan jangan memastikan perkara gaib yang hanya diketahui Allah.
Penutup
Kajian ini mengingatkan pentingnya memahami kalimat “Laa ilaaha illallaah” secara benar. Tauhid harus tertanam dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam ibadah serta ketaatan. Seorang mukmin menjaga tauhidnya sampai akhir hayat, mengikuti Rasulullah ﷺ, menjauhi kesyirikan, dan terus memperbaiki diri. Jika melakukan dosa, ia segera bertobat dan memohon ampun kepada Allah, tanpa berputus asa dari rahmat-Nya maupun merasa aman dari makar-Nya.
Semoga Allah menambah ilmu dan keteguhan iman kita, menjaga kita di atas tauhid hingga akhir hayat, serta menjadikan kajian ini bermanfaat. Aamiin.
*****