Bismillah
Daftar Isi:
Pembukaan
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari keburukan diri dan perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 102)
Amma ba‘du. Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan perkara yang paling buruk adalah perkara baru dalam agama. Setiap perkara baru (dalam agama) adalah bidah, setiap bidah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka. (Lafaz khutbah ini diriwayatkan antara lain dalam Ṣaḥīḥ Muslim no. 867.)
Hadirin yang dimuliakan Allah, semoga Allah merahmati kita. Alhamdulillah, Allah memudahkan kita berkumpul di majelis ini. Semoga kehadiran kita ikhlas untuk mencari rida dan pahala-Nya, dan semoga Allah melipatgandakan pahala serta menganugerahkan ilmu yang bermanfaat dan berkah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, serta kaum muslimin yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari akhir.
Makna hidayah sunnah dan keutamaannya
Hidayah yang dimaksud dalam tema ini ialah hidayah taufik: terbukanya hati untuk menerima kebenaran. Sunnah yang dimaksud ialah tuntunan Nabi ﷺ, bukan makna khusus istilah fikih—amalan yang berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Sunnah dalam pembahasan ini adalah ajaran yang sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ; bidah adalah ajaran agama yang tidak memiliki tuntunannya.
Mengikuti Nabi ﷺ merupakan sebab datangnya cinta dan ampunan Allah. Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 31)
Umat ini akan terpecah menjadi golongan-golongan. Dalam riwayat yang masyhur, ketika ditanya tentang golongan yang selamat, Nabi ﷺ menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan beliau dan para sahabat. Redaksi Arab yang sering dikutip ialah:
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“(Golongan yang selamat ialah) mereka yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku.”
Riwayat perpecahan 73 golongan dan redaksi ini tercantum dalam Jāmi‘ at-Tirmiżī no. 2641. Kualitas dan jalur-jalur riwayatnya dibahas oleh para ulama hadis; karena itu, redaksi ini dinukil sebagai riwayat, bukan sebagai ayat Al-Qur’an.
Allah menjanjikan kebersamaan dengan para nabi dan orang-orang saleh bagi mereka yang taat kepada-Nya dan Rasul-Nya:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisā’ [4]: 69)
Di antara nikmat terbesar di surga adalah melihat Allah. Nabi ﷺ bersabda bahwa penghuni surga tidak memperoleh sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat Rabb mereka (Ṣaḥīḥ Muslim no. 181). Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya Allah Mahaindah dan menyukai keindahan” (Ṣaḥīḥ Muslim no. 91); hadis ini berbicara tentang keindahan Allah dan tidak dimaksudkan sebagai dalil untuk membanding-bandingkan kenikmatan surga.
Dalam riwayat dari Masruq, para sahabat menyampaikan kesedihan mereka membayangkan berpisah dari Nabi ﷺ setelah beliau wafat. Lalu turun ayat QS an-Nisā’ [4]: 69 yang menjanjikan bahwa orang yang taat kepada Allah dan Rasul akan dikumpulkan bersama para nabi, siddiqin, syuhada, dan orang saleh. (Riwayat ini terdapat dalam Jāmi‘ at-Tirmiżī no. 3012; juga diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis lainnya.)
Para ulama salaf juga mengingatkan besarnya nikmat berpegang pada sunnah dan menghormati para sahabat. Dalam ceramah ini dinukil perkataan Imam Mālik, al-Fuḍail bin ‘Iyāḍ, dan Imam Aḥmad tentang keutamaan meninggal di atas Islam dan sunnah serta tidak mencela sahabat. Perkataan-perkataan tersebut adalah atsar ulama, bukan sabda Nabi ﷺ.
Prinsip-prinsip meniti hidayah sunnah
1. Mendahulukan ilmu sebelum berkata dan beramal
Pelajarilah dasar dan tuntunan suatu ibadah sebelum mengucapkan atau mengamalkannya. Beramal dengan tuntunan yang benar lebih utama daripada banyak melakukan amalan yang tidak memiliki dasar. Kualitas kesesuaian amal dengan sunnah perlu didahulukan; banyaknya amal saja tidak menjamin pahala.
Al-Qur’an dan sunnah adalah sumber utama agama. Allah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan aż-Żikr (Al-Qur’an), dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” (QS al-Ḥijr [15]: 9)
Allah juga menantang orang yang meragukan wahyu untuk mendatangkan satu surah semisal Al-Qur’an (QS al-Baqarah [2]: 23). Dia berfirman bahwa seandainya Al-Qur’an berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya (QS an-Nisā’ [4]: 82).
Karena itu, muliakan Al-Qur’an dengan membaca, menghafal, memahami, dan merenungkannya. Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Al-Qur’an ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS Ṣād [38]: 29)
Sunnah Nabi ﷺ juga perlu dipastikan sumber dan derajatnya. Penyebutan sanad saja tidak otomatis menjadikan suatu hadis sahih; periksa kitab dan penilaian ahli hadis. Memahami Al-Qur’an dan sunnah perlu merujuk kepada penjelasan generasi awal umat dan ulama yang kompeten, bukan menafsirkannya sesuka hati. Sebuah kata dapat memiliki beberapa makna; konteks dan penjelasan ahli ilmu harus diperhatikan.
Dalam ceramah, ustaz mencontohkan hadis tentang perintah mengajarkan salat kepada anak dan memukulnya secara mendidik ketika berusia sepuluh tahun bila ia meninggalkannya. Redaksi hadisnya:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
“Perintahkan anak-anak kalian untuk salat ketika berusia tujuh tahun, dan berikan tindakan disiplin kepada mereka karenanya ketika berusia sepuluh tahun.”
Riwayat Abū Dāwūd no. 495. Maksud contoh dalam ceramah ialah agar hadis tidak ditafsirkan dengan mengubah arti kata tanpa dukungan bahasa dan penjelasan ulama. Penerapan hadis tentang anak harus dipahami bersama prinsip kasih sayang, keselamatan, dan ketentuan syariat; bukan pembenaran untuk menyakiti atau melakukan kekerasan.
Dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu dinukil nasihat:
اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ
“Ikutilah tuntunan dan jangan membuat-buat perkara baru; sungguh kalian telah dicukupkan.”
Atsar ini diriwayatkan dalam al-Mu‘jam al-Kabīr karya aṭ-Ṭabarānī (no. 8770 dalam sejumlah penomoran).
Mendahulukan ilmu berarti terus belajar. Ilmu agama luas—akidah, tafsir, fikih, bahasa Arab, ilmu hadis, dan lainnya—maka jangan merasa telah cukup atau takut kehabisan bahan untuk dipelajari.
2. Belajar kepada ahlinya
Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS an-Naḥl [16]: 43; lihat pula QS al-Anbiyā’ [21]: 7)
Pilih guru sesuai keahliannya, sebagaimana urusan kesehatan ditanyakan kepada tenaga kesehatan dan urusan lain kepada ahlinya. Dalam memilih guru agama, perhatikan setidaknya tiga hal: kompetensi ilmu, ketakwaan dan amanah, serta akhlak yang baik. Guru menjadi teladan; ilmu yang tinggi semestinya tampak dalam kejujuran, tanggung jawab, dan perilaku.
3. Mencari teman dan lingkungan yang baik
Teman dekat sangat memengaruhi kebiasaan dan agama seseorang. Nabi ﷺ bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang mengikuti agama teman dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya teman dekat.” (Sunan Abī Dāwūd no. 4833; Jāmi‘ at-Tirmiżī no. 2378)
Allah menggambarkan penyesalan orang yang memilih teman dekat yang menyesatkannya:
يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي
“Aduhai, kiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika peringatan itu telah datang kepadaku.” (QS al-Furqān [25]: 28–29)
Carilah lingkungan yang mendorong ilmu dan amal baik. Bila meninggalkan sesuatu demi Allah, berharaplah kepada-Nya untuk mengganti dengan yang lebih baik. Ceramah juga mengingatkan agar orang yang masih belajar tidak sengaja memburu perdebatan dan syubhat sebelum memiliki dasar ilmu yang kuat. Nasihat ini bukan larangan bertanya atau berdiskusi dengan adab, melainkan ajakan untuk mengutamakan belajar yang terarah.
Nabi ﷺ bersabda:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ
“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan mereka diberi kesibukan berdebat.” (Jāmi‘ at-Tirmiżī no. 3253; dinilai ḥasan ṣaḥīḥ oleh at-Tirmiżī.)
4. Berdoa agar diteguhkan di atas kebenaran
Nabi ﷺ sering berdoa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (Jāmi‘ at-Tirmiżī no. 2140)
Al-Qur’an juga mengajarkan doa:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 8)
Dalam ceramah juga dianjurkan doa bermakna baik: “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kemampuan untuk mengikutinya; tunjukkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kemampuan untuk menjauhinya.” Ini doa susunan bebas, bukan kutipan ayat atau hadis tertentu.
5. Mengamalkan ilmu
Ilmu hendaknya diwujudkan dalam amal sesuai kemampuan. Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا
“Seandainya mereka benar-benar melaksanakan nasihat yang diberikan kepada mereka, tentu hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS an-Nisā’ [4]: 66)
Dalam ceramah dinukil perkataan ‘Alī bin Abī Ṭālib bahwa ilmu mengajak pemiliknya untuk diamalkan; jika diamalkan, ilmu itu menetap, dan jika tidak, ia pergi. Dinukil pula dari al-Sya‘bī bahwa mereka membantu hafalan hadis dengan mengamalkannya. Keduanya merupakan atsar, bukan hadis Nabi.
Amalkan ilmu dalam ibadah dan muamalah: menunaikan amanah, membayar utang, menepati kesepakatan, berkata jujur, dan menjaga diri dari yang dilarang. Tidak ada manusia yang sempurna mengamalkan semua yang diketahui, tetapi pengetahuan yang belum diamalkan hendaknya mendorong perbaikan, bukan disepelekan.
6. Memahami Al-Qur’an dan sunnah menurut pemahaman generasi awal
Para sahabat menyaksikan turunnya wahyu, memahami bahasa dan konteksnya, serta belajar langsung dari Nabi ﷺ. Karena itu, memahami agama perlu merujuk kepada penjelasan mereka dan para ulama yang mewarisi ilmu tersebut.
Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka.” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 2652; Ṣaḥīḥ Muslim no. 2533)
Jangan mengambil satu potongan ayat lalu memisahkannya dari konteks. Contohnya, QS al-Kahf [18]: 29 menyebut “siapa yang menghendaki, hendaklah ia beriman; dan siapa yang menghendaki, hendaklah ia kafir,” tetapi ayat itu berlanjut dengan ancaman bagi orang zalim. Makna ayat harus dibaca utuh dan dipahami melalui tafsir yang bertanggung jawab.
7. Mendengar dan menaati wahyu
Allah memuji sikap orang beriman yang menerima keputusan Allah dan Rasul-Nya:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, hanyalah, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS an-Nūr [24]: 51)
Akal digunakan untuk memahami wahyu, sementara keterbatasan akal tidak menjadi alasan untuk menolak keterangan yang sahih. Ada perkara yang hakikat atau caranya tidak kita ketahui; dalam hal itu, kita mengimani keterangan wahyu dan menyerahkan pengetahuan tentang kaifiahnya kepada Allah.
8. Tidak fanatik kepada siapa pun selain dalil
Hormati guru dan ulama, tetapi jangan menganggap mereka maksum. Jika seorang guru yang dikenal berilmu menyampaikan sesuatu, terima dengan sikap baik; bila tampak ada dalil sahih yang berbeda, pelajari pemahaman dalil itu melalui ahli ilmu. Bisa jadi guru keliru atau lupa. Ikuti kebenaran setelah jelas, tanpa merendahkan orangnya.
Ilmu yang benar mengurangi fanatisme buta. Belajar dengan tertib, memahami dalil dan penjelasan ulama, serta menjaga adab ketika berbeda pendapat.
9. Menjauhi bidah dalam agama
Dalam khutbah pembuka telah disebutkan sabda Nabi ﷺ:
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Setiap bidah adalah kesesatan.” (Ṣaḥīḥ Muslim no. 867)
Prinsip yang disampaikan penceramah ialah bahwa ibadah harus memiliki landasan dari syariat; sesuatu tidak menjadi ibadah yang disyariatkan hanya karena dianggap baik oleh manusia. Karena istilah “bidah” kerap dipakai dengan definisi berbeda dalam pembahasan fikih, penerapan prinsip ini pada kasus tertentu perlu merujuk penjelasan ulama dan tidak digunakan untuk saling menuduh.
Sesi tanya jawab
Apakah seseorang harus mengetahui dalil sebelum mengamalkan sunnah?
Penanya mencontohkan memelihara jenggot atau memakai pakaian di atas mata kaki. Jawabannya, orang awam tidak disyaratkan mengetahui dan menghafal dalil terperinci sebelum mengikuti tuntunan. Ia boleh bertanya kepada ahli ilmu dan mengikuti penjelasan yang terpercaya. Perlu dibedakan antara mengetahui bahwa suatu amalan termasuk tuntunan agama dan mampu menyebutkan dalilnya secara rinci.
Bolehkah berdoa bersama setelah suatu pertemuan?
Jika doa penutup dilakukan sebagai kebiasaan umum dan tidak diyakini sebagai ritual khusus yang wajib atau sunnah tetap pada setiap pertemuan, penceramah membolehkannya. Mengaminkan doa juga diperbolehkan. Beliau menyebut doa yang Nabi ﷺ baca bagi para sahabat ketika meninggalkan majelis:
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu; ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu; dan keyakinan yang meringankan musibah dunia bagi kami.”
Doa ini berlanjut dengan permohonan agar Allah memberi kenikmatan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan selama hidup; menjadikannya tetap terpelihara; menolong dari orang yang menzalimi dan memusuhi; tidak menjadikan musibah menimpa agama; tidak menjadikan dunia sebagai perhatian terbesar atau puncak ilmu; serta tidak memberikan kuasa kepada orang yang tidak menyayangi kita. Riwayat dari Ibnu ‘Umar terdapat dalam Jāmi‘ at-Tirmiżī no. 3502, yang menilainya ḥasan gharīb; doa lengkap juga diriwayatkan dalam Sunan an-Nasā’ī al-Kubrā no. 10161. Sebagian redaksi berbeda antarjalur.
Bolehkah belajar agama melalui kajian daring?
Boleh mengikuti kajian daring atau saluran yang terpercaya, terutama bila pengajian tersusun dari awal hingga akhir suatu kitab dan pengajarnya ahli. Jika tersedia guru ahli secara langsung, belajar langsung lebih baik karena memudahkan interaksi; tetapi bila pilihan langsung tidak tersedia, kajian daring dari guru yang kompeten lebih baik daripada belajar tanpa bimbingan. Pertanyaan dapat diajukan kepada guru atau ahli ilmu.
Penutup
Semoga pembahasan ini bermanfaat dan diberkahi Allah. Semoga Allah memberi kita taufik untuk bersemangat mengamalkan dan menyebarkan ilmu yang sampai kepada kita dengan cara yang baik. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
****
Poster Ringkasan

*****