Kategori Aqidah

Masalah-masalah ilmiyah yang berasal dari Allah dan RosulNya, yang wajib diyakini oleh setiap muslim
Kajian Bertema Aqidah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Kajian Kitab At-Tadzkirah fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah | Peringatan tentang Kematian dan Perkara-Perkara Akhirat
Pemateri: Muhammad Jamaludin Hafizahullah
Masjid: Al-Ikhlas Singopuran - Surakarta

Muqaddimah

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Pada beberapa kesempatan sebelumnya telah dibahas mengenai masalah syafa'at. Pada kesempatan kali ini, pembahasan dilanjutkan dengan menjelaskan amalan-amalan yang menjadi sebab seseorang mendapatkan syafa'at Nabi Muhammad ﷺ pada hari kiamat.

Ada sejumlah amalan yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi ﷺ berkaitan dengan syafa'at. Namun, amalan-amalan tersebut perlu dibedakan menjadi dua kelompok:

  1. Amalan yang disebutkan dalam hadits-hadits sahih sehingga dapat dijadikan landasan dalam menetapkan sebab-sebab mendapatkan syafa'at.
  2. Amalan yang disebutkan dalam hadits-hadits lemah atau palsu. Meskipun sebagian amalannya merupakan amalan baik dan disyariatkan, tidak boleh secara khusus menetapkannya sebagai sebab mendapatkan syafa'at tanpa dalil yang sahih.

Pembahasan ini penting agar seorang muslim tidak hanya bersemangat mengamalkan kebaikan, tetapi juga memastikan bahwa keyakinan dan amalannya dibangun di atas dalil yang benar.

A. Amalan-Amalan yang Berdasarkan Haditst Shahih 

1. Mentauhidkan Allah dan Menjauhi Kesyirikan

Amalan pertama sekaligus sebab paling utama untuk mendapatkan syafa'at Nabi ﷺ adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak melakukan kesyirikan.

Seorang muslim yang berharap mendapatkan syafa'at hendaknya menjaga kemurnian tauhidnya. Tidak cukup seseorang mengaku menginginkan syafa'at, sementara dirinya masih melakukan kesyirikan dan tidak memurnikan ibadah kepada Allah.

Hal ini ditegaskan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

Hadits tersebut menjelaskan bahwa setiap nabi memiliki doa yang mustajab. Setiap nabi telah menggunakan doanya, sedangkan Rasulullah ﷺ menyimpan doa tersebut sebagai syafa'at bagi umatnya pada hari kiamat.

Beliau bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا».

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Setiap nabi memiliki doa yang mustajab. Setiap nabi telah menyegerakan doanya tersebut. Adapun aku, sesungguhnya aku menyimpan doaku sebagai syafa'at bagi umatku pada hari kiamat. Insyaallah, syafa'at tersebut akan diperoleh oleh setiap orang dari umatku yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun."

Sumber: HR. Muslim no. 199, Kitab Al-Iman.

Hadits ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan perkara yang sangat mendasar dalam memperoleh syafa'at Nabi ﷺ. Siapa saja yang menginginkan syafa'at hendaknya menjaga dirinya dari kesyirikan dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah.

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan siapa orang yang paling berbahagia mendapatkan syafa'at beliau. Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda:

«أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ».

"Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas dari hati atau jiwanya."

Sumber: HR. Bukhari no. 99, Kitab Al-'Ilmi, Bab Al-Hirsh 'alal Hadits.

Hadits ini menjadi penegasan bahwa orang yang paling berhak mendapatkan syafa'at Nabi ﷺ adalah orang yang memiliki tauhid yang murni.

Dalam kitab At-Taudhih li Syarh Al-Jami' Ash-Shahih, Al-Hafizh Ibnu Al-Mulaqqin menjelaskan bahwa orang-orang yang mendapatkan syafa'at memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Ada yang mendapatkan bagian besar dan ada pula yang mendapatkan bagian lebih sedikit. Semakin tinggi kualitas tauhid seseorang, semakin besar pula bagian syafa'at yang diharapkan akan diperolehnya.

Dengan demikian, tauhid bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi harus diwujudkan dengan memurnikan ibadah, menjauhi kesyirikan, dan menjaga keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

2. Membaca Doa Setelah Mendengar Azan

Amalan kedua adalah membaca doa setelah mendengar azan, yaitu doa yang berisi permohonan kepada Allah agar memberikan kedudukan Al-Wasilah dan keutamaan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma. Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

"Barang siapa ketika mendengar azan membaca:

'Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan Shalat yang akan didirikan. Berikanlah kepada Muhammad Al-Wasilah dan Al-Fadhilah, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan kepadanya.'

Maka ia berhak mendapatkan syafa'atku pada hari kiamat."

Sumber: HR. Bukhari no. 614, Kitab Al-Adzan, Bab Ad-Du'a 'Indan Nida'.

Doa tersebut hendaknya dibaca setelah selesai menjawab azan. Di dalamnya terdapat permohonan agar Allah memberikan Al-Wasilah, yaitu kedudukan yang sangat tinggi di surga, serta Al-Fadhilah dan Al-Maqam Al-Mahmud kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Amalan ini termasuk sebab yang jelas disebutkan dalam hadits sahih untuk mendapatkan syafa'at beliau pada hari kiamat.

3. Bersabar Tinggal di Kota Madinah

Amalan berikutnya adalah bersabar tinggal di kota Madinah, khususnya dalam menghadapi kesulitan dan berbagai ujian kehidupan di dalamnya.

Kota Madinah memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa beliau akan menjadi pemberi syafa'at atau saksi bagi orang yang bersabar menghadapi kesulitan hidup di Madinah.

Dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ صَبَرَ عَلَى لَأْوَائِهَا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

"Barang siapa bersabar menghadapi kesulitan dan beratnya kehidupan di Madinah, aku akan menjadi pemberi syafa'at atau saksi baginya pada hari kiamat."

Sumber: HR. Muslim no. 1377, Kitab Al-Hajj, Bab At-Targhib fi Sukna Al-Madinah wash-Shabri 'ala La'wiha.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا».

"Tidaklah seseorang dari umatku bersabar menghadapi kesulitan dan beratnya kehidupan di Madinah, melainkan aku akan menjadi pemberi syafa'at atau saksi baginya pada hari kiamat." (HR. Muslim no. 1378).

Rasulullah ﷺ juga menganjurkan kaum muslimin yang memiliki kemampuan agar berusaha meninggal dunia di Madinah.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا، فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا».

"Barang siapa mampu meninggal dunia di Madinah, hendaklah ia meninggal di sana. Sesungguhnya aku akan memberikan syafa'at kepada orang yang meninggal di sana."

Sumber: HR. At-Tirmidzi no. 3917, Kitab Al-Manaqib, Bab Fi Fadhli Al-Madinah. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.

Ini merupakan keutamaan yang besar bagi orang-orang yang tinggal di Madinah dan bersabar menghadapi berbagai kesulitannya. Oleh karena itu, seorang muslim dapat memohon kepada Allah agar diberikan kesempatan tinggal di kota tersebut dan memperoleh keutamaan meninggal dunia di sana.

Kita juga dapat membayangkan keutamaan orang-orang yang dimakamkan di pemakaman Baqi'. Setiap hari ada kaum muslimin yang berziarah dan mendoakan penghuni kuburnya. Mereka mendapatkan doa dari kaum muslimin yang berziarah.

Doa yang dibaca ketika berziarah kubur di antaranya:

«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ».

"Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni tempat tinggal kaum muslimin dan kaum mukminin. Sesungguhnya kami, insyaallah, akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian."

4. Memperbanyak Sujud dan Shalat

Amalan berikutnya adalah memperbanyak sujud, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunah. Hal ini dijelaskan dalam hadits tentang seorang pembantu Rasulullah ﷺ yang meminta agar beliau memberikan syafa'at untuknya pada hari kiamat.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, dari Ziyad bin Abu Ziyad, pembantu Nabi ﷺ pernah mendapatkan pertanyaan dari Rasulullah ﷺ mengenai keperluannya.

Pada suatu hari, ia menjawab bahwa keperluannya adalah agar Rasulullah ﷺ memberikan syafa'at kepadanya pada hari kiamat. Rasulullah ﷺ bertanya:

«وَمَنْ دَلَّكَ عَلَى هَذَا؟»

"Siapa yang mengarahkanmu untuk meminta hal ini?"

Ia menjawab:

«رَبِّي».

"Rabbku."

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِمَّا لَا، فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ».

"Jika memang demikian, bantulah aku untuk memberikan syafa'at kepadamu dengan memperbanyak sujud." (HR. Ahmad no. 15496).

Hadits ini menunjukkan keutamaan memperbanyak sujud. Semakin banyak seseorang mendekatkan diri kepada Allah melalui Shalat dan sujud, semakin besar kesempatan baginya untuk memperoleh keutamaan yang dijanjikan.

Ada pula hadits lain dari Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslami radhiyallahu 'anhu. Ia pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ agar dapat menyertai beliau di surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«سَلْ».

"Mintalah!"

Rabi'ah menjawab:

«أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ».

"Aku meminta agar dapat menyertaimu di surga."

Rasulullah ﷺ bertanya:

«أَوَغَيْرَ ذَلِكَ؟»

"Adakah permintaan yang lain?"

Rabi'ah menjawab:

«هُوَ ذَاكَ».

"Itulah yang aku inginkan."

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

«فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ».

"Maka bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan memperbanyak sujud."

Sumber: HR. Muslim no. 489, Kitab Ash-Shalah, Bab Fadhl As-Sujud wal-Hatstsu 'Alaih. Hadits ini juga diriwayatkan Abu Dawud no. 1320.

Hadits tersebut mengajarkan bahwa cita-cita tertinggi seorang muslim hendaknya bukan hanya memperoleh kenikmatan dunia, melainkan mendapatkan kebahagiaan akhirat dan kedudukan bersama Rasulullah ﷺ di surga.

Karena itu, memperbanyak Shalat dan sujud merupakan amalan yang hendaknya senantiasa dijaga.

B. Amalan yang Disebutkan dalam Hadits Lemah atau Palsu

Setelah menjelaskan amalan-amalan yang didasarkan pada hadits sahih, pembahasan berikutnya adalah beberapa amalan yang disebutkan dalam hadits-hadits lemah atau palsu sebagai sebab mendapatkan syafa'at Nabi ﷺ.

Perlu diperhatikan bahwa lemahnya hadits yang menyebutkan suatu keutamaan tidak otomatis berarti amalan tersebut buruk atau terlarang.

Bisa jadi amalannya memang disyariatkan berdasarkan dalil lain yang sahih. Akan tetapi, menjadikan amalan tersebut sebagai sebab khusus untuk memperoleh syafa'at membutuhkan dalil yang sahih.

Berikut beberapa amalan yang disebutkan dalam pembahasan kajian.

1. Memperbanyak Shalawat kepada Nabi ﷺ pada Pagi dan Petang

Memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ merupakan amalan yang sangat utama. Seorang muslim dianjurkan memperbanyak shalawat kapan saja, baik pada pagi, petang, maupun waktu-waktu lainnya.

Namun, terdapat sebuah hadits yang secara khusus menyebutkan bahwa orang yang bershalawat sepuluh kali pada pagi hari dan sepuluh kali pada petang hari akan mendapatkan syafa'at Nabi ﷺ.

Lafaz hadits tersebut:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِينَ يُصْبِحُ عَشْرًا، وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا، أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

"Barang siapa bershalawat kepadaku sepuluh kali pada waktu pagi dan sepuluh kali pada waktu petang, niscaya ia akan mendapatkan syafa'atku pada hari kiamat."

Sumber: Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani. Dinilai lemah oleh sejumlah ahli hadits; lihat Adh-Dha'ifah dan pembahasan hadits ini dalam Al-Mausu'ah Al-Haditsiyyah Ad-Durar As-Saniyyah.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani pernah menghasankan hadits ini, kemudian setelah melakukan penelaahan kembali, beliau menilainya lemah dalam pembahasan hadits-hadits lemah.

Oleh karena itu, kita tetap memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ karena keutamaannya telah ditetapkan oleh dalil-dalil sahih. Akan tetapi, kita tidak menetapkan jumlah sepuluh kali pada pagi dan petang sebagai sebab khusus memperoleh syafa'at berdasarkan hadits tersebut.

2. Mencintai Ahli Bait Nabi ﷺ

Mencintai keluarga Rasulullah ﷺ atau ahli bait merupakan bagian dari sikap menghormati dan memuliakan keluarga beliau. Dalam sebuah hadits yang disebutkan dalam kajian, terdapat riwayat dengan lafaz:

«مَنْ أَحَبَّكَ نَالَتْهُ شَفَاعَتِي، وَمَنْ أَبْغَضَكَ لَمْ تَنَلْهُ شَفَاعَتِي».

"Barang siapa mencintaimu, ia akan mendapatkan syafa'atku. Barang siapa membencimu, ia tidak akan mendapatkan syafa'atku."

Riwayat tersebut disebutkan berkaitan dengan Al-Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah ﷺ. Namun, hadits yang secara khusus menghubungkan kecintaan kepada Al-Abbas dengan diperolehnya syafa'at tersebut dinilai lemah.

Meskipun demikian, mencintai dan memuliakan ahli bait yang saleh merupakan perkara yang diperintahkan. Rasulullah ﷺ sendiri pernah mengingatkan umatnya agar memperhatikan hak-hak keluarga beliau.

Beliau bersabda:

«أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي».

"Aku mengingatkan kalian kepada Allah mengenai hak-hak ahli baitku." (Sumber: HR. Muslim no. 2408, dari Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu).

Akan tetapi, kecintaan kepada ahli bait bukan berarti membenarkan seluruh perbuatan seseorang hanya karena ia memiliki hubungan nasab dengan Rasulullah ﷺ.

Apabila ada seseorang yang mengaku sebagai keturunan Nabi, tetapi melakukan penyimpangan dalam agama, perbuatan bidah, atau kemaksiatan, maka perbuatan tersebut tetap harus dinilai berdasarkan syariat. Kemuliaan nasab tidak menjadikan seseorang terbebas dari kewajiban mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah.

Seorang muslim hendaknya menghormati ahli bait yang saleh, tetapi tetap menjadikan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah sebagai ukuran kemuliaan seseorang.

3. Bersahabat dan Saling Mencintai karena Allah

Bersahabat, saling mencintai, dan berkumpul karena Allah merupakan amalan yang mulia.

Dalam hadits sahih, disebutkan bahwa di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah karena Allah.

Namun, terdapat riwayat yang menyebutkan secara khusus bahwa setiap dua orang yang bersahabat atau saling mencintai karena Allah akan mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ.

Lafaz riwayat tersebut:

«أَنَا شَفِيعٌ لِكُلِّ رَجُلَيْنِ اتَّخَذَا فِي اللَّهِ».

Dalam riwayat lainnya:

«أَنَا شَفِيعٌ لِكُلِّ رَجُلَيْنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ».

"Aku akan memberikan syafa'at kepada setiap dua orang yang menjalin persahabatan atau saling mencintai karena Allah."

Riwayat yang mengkhususkan persahabatan karena Allah sebagai sebab memperoleh syafa'at ini dinilai palsu oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah wal-Maudhu'ah.

Dengan demikian, kita tetap dianjurkan bersahabat dan saling mencintai karena Allah. Namun, tidak boleh memastikan bahwa amalan tersebut secara khusus menjadi sebab mendapatkan syafa'at Nabi ﷺ berdasarkan riwayat tersebut.

4. Membantu Memenuhi Kebutuhan Saudara Muslim

Membantu kebutuhan saudara sesama muslim merupakan amalan yang sangat mulia. Seorang muslim hendaknya senantiasa berusaha meringankan kesulitan orang lain.

Namun, dalam pembahasan syafa'at terdapat sebuah riwayat yang menyebutkan:

«مَنْ قَضَى لِأَخِيهِ حَاجَةً كُنْتُ وَاقِفًا عِنْدَ مِيزَانِهِ، فَإِنْ رَجَحَ وَإِلَّا شَفَعْتُ لَهُ».

"Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, aku akan berdiri di sisi timbangan amalnya. Jika timbangan kebaikannya berat, maka itulah yang diharapkan. Namun, jika tidak, aku akan memberikan syafa'at kepadanya."

Riwayat ini disebutkan dalam pembahasan hadits-hadits lemah oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah wal-Maudhu'ah.

Sanadnya dinilai sangat lemah (dha'if jiddan). Imam Ad-Daraquthni juga menyebut riwayat tersebut sebagai hadits mungkar.

Oleh karena itu, meskipun membantu kebutuhan saudara muslim merupakan amalan yang dianjurkan, kita tidak menetapkan riwayat tersebut sebagai dalil bahwa amalan itu secara khusus mendatangkan syafa'at Nabi ﷺ.

5. Menghafalkan Empat Puluh Hadits

Terdapat pula riwayat yang menyebutkan keutamaan menghafalkan empat puluh hadits dari Sunnah Nabi ﷺ.

Lafaz riwayat tersebut:

«مَنْ حَفِظَ عَلَى أُمَّتِي أَرْبَعِينَ حَدِيثًا مِنَ السُّنَّةِ كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

"Barang siapa menghafalkan empat puluh hadits dari Sunnah untuk umatku, aku akan menjadi pemberi syafa'at baginya pada hari kiamat."

Sumber: Diriwayatkan melalui sejumlah jalur, di antaranya dalam Al-Kamil fi Dhu'afa' Ar-Rijal karya Ibnu 'Adi.

Syaikh Al-Albani menilai riwayat tersebut sebagai hadits palsu (maudhu'), sebagaimana disebutkan dalam pembahasan kajian.

Menghafalkan dan mempelajari hadits Nabi ﷺ tentu merupakan amalan yang sangat baik. Akan tetapi, keutamaan khusus berupa kepastian memperoleh syafa'at karena menghafalkan empat puluh hadits tidak dapat ditetapkan dengan riwayat tersebut.

6. Menziarahi Kuburan Nabi ﷺ

Menziarahi makam Rasulullah ﷺ ketika berada di Madinah merupakan perkara yang dibahas dalam syariat ziarah. Namun, terdapat hadits yang menyebutkan bahwa orang yang menziarahi kuburan Nabi ﷺ pasti mendapatkan syafa'at beliau.

Lafaz hadits tersebut:

«مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي».

"Barang siapa menziarahi kuburku, wajib baginya mendapatkan syafa'atku."

Hadits ini diriwayatkan melalui beberapa jalur, di antaranya oleh Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi. Namun, hadits tersebut dinilai lemah, bahkan dihukumi palsu oleh Syaikh Al-Albani dalam Dha'if Al-Jami' Ash-Shaghir no. 5607.

Sekali lagi, hal ini bukan berarti meniadakan keutamaan ziarah kubur atau mengurangi kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Yang perlu diperhatikan adalah jangan menetapkan suatu amalan sebagai sebab khusus memperoleh syafa'at apabila dalil yang mendasarinya tidak sahih.

C. Pelajaran Penting dari Pembahasan Syafaat

Dari seluruh pembahasan di atas, terdapat beberapa pelajaran penting yang hendaknya diperhatikan oleh setiap muslim.

  1. Tauhid merupakan sebab paling utama untuk mendapatkan syafa'at. Seorang muslim harus menjaga kemurnian ibadahnya dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
  2. Syafaat sepenuhnya berada di bawah kehendak dan izin Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at tanpa izin Allah Subhanahu wa Ta'ala.
  3. Memperbanyak Shalat dan sujud merupakan amalan yang sangat utama. Seorang muslim hendaknya menjaga Shalat wajib dan memperbanyak Shalat sunah.
  4. Membaca doa setelah azan merupakan amalan yang memiliki keutamaan khusus. Di antara keutamaannya adalah menjadi sebab memperoleh syafa'at Nabi ﷺ pada hari kiamat.
  5. Bersabar menghadapi kesulitan tinggal di Madinah memiliki keutamaan besar. Rasulullah ﷺ menjanjikan akan menjadi saksi atau pemberi syafa'at bagi orang yang bersabar menghadapi kesulitannya.
  6. Tidak semua hadits yang menyebutkan keutamaan suatu amalan dapat dijadikan landasan. Seorang muslim harus memperhatikan kualitas hadits sebelum menetapkan suatu amalan sebagai sebab khusus memperoleh syafa'at.
  7. Amalan yang baik tetap harus didasarkan pada dalil yang benar. Jangan sampai semangat beribadah membuat seseorang mudah menyandarkan sesuatu kepada Rasulullah ﷺ tanpa memastikan kebenaran riwayatnya.

D. Penjelasan tentang Syarat Syafaat

Sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, syafa'at tidak dapat terjadi kecuali dengan dua syarat utama:

1. Izin Allah kepada pemberi syafa'at untuk memberikan syafa'at.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

"Tidak ada yang dapat memberi syafa'at di sisi-Nya tanpa izin-Nya." (QS. Al-Baqarah: 255)

2. Keridaan Allah terhadap orang yang menerima syafa'at.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ

"Dan mereka tidak memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridai Allah." (QS. Al-Anbiya: 28)

Kedua syarat tersebut menunjukkan bahwa syafa'at bukan sesuatu yang dapat diminta atau diberikan secara bebas. Semuanya berada di bawah kekuasaan, izin, dan keridaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

E. Kutipan dan Penjelasan Ulama

1. Ibnu Al-Mulaqqin rahimahullah tentang tingkatan orang yang memperoleh syafa'at

Dalam At-Taudhih li Syarh Al-Jami' Ash-Shahih, ketika menjelaskan hadits tentang orang yang paling berbahagia mendapatkan syafa'at Nabi ﷺ, Ibnu Al-Mulaqqin menjelaskan bahwa manusia yang mendapatkan syafa'at memiliki tingkatan yang berbeda-beda.

Berikut penyajian makna penjelasan beliau dalam bahasa Arab dan terjemahan Indonesia (bukan kutipan redaksi harfiah):

الْمَعْنَى الْمُسْتَفَادُ مِنْ كَلَامِ ابْنِ الْمُلَقِّنِ: يَتَفَاوَتُ النَّاسُ فِي نَصِيبِهِمْ مِنَ الشَّفَاعَةِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَنَالُ النَّصِيبَ الْأَكْبَرَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَنَالُ النَّصِيبَ الْأَقَلَّ، وَكُلَّمَا كَانَ التَّوْحِيدُ أَكْمَلَ كَانَ نَصِيبُ الْعَبْدِ مِنَ الشَّفَاعَةِ أَعْظَمَ.

Manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam memperoleh bagian syafa'at. Ada yang memperoleh bagian lebih besar dan ada yang memperoleh bagian lebih sedikit. Semakin sempurna tauhid seseorang, semakin besar bagian syafa'at yang diharapkan diperolehnya.

Referensi: Ibnu Al-Mulaqqin, At-Taudhih li Syarh Al-Jami' Ash-Shahih, pembahasan syarah hadits tentang orang yang paling berbahagia mendapatkan syafa'at Nabi ﷺ.

F. Penutup

Demikianlah beberapa amalan yang disebutkan dalam hadits-hadits sahih sebagai sebab untuk mendapatkan syafa'at Nabi Muhammad ﷺ pada hari kiamat.

Kita perlu membedakan antara amalan yang memiliki landasan hadits sahih dan amalan yang hanya disebutkan dalam riwayat lemah atau palsu. Sebab, menetapkan suatu amalan sebagai sebab khusus memperoleh syafa'at harus didasarkan pada dalil yang benar. Jangan sampai kita meninggalkan amalan-amalan yang telah jelas tuntunannya, tetapi justru sibuk mengamalkan sesuatu yang tidak memiliki landasan yang kuat.

Marilah kita memperbaiki tauhid, menjauhi kesyirikan, menjaga Shalat, memperbanyak sujud, membaca doa setelah azan, dan senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafa'at Nabi Muhammad ﷺ pada hari kiamat.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

"Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu."

G. Poster Ringkasan

Amalan Mendapatkan Syafaat Nabi

*****

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini