Kategori Fiqh

Pemahaman muslimin mengenai praktik-praktik ibadah berdasarkan Syariat
Kajian Bertema Fiqh

ุจูุณู’ู€ู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…

Materi : Kitab Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Pemateri : Ustadz Hamzah Al-Fajri, S.Pd Hafizhahullah (Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhori)
Hari/ Tanggal :  Ahad, 19 April 2026 M / 2 Dzulqa'idah 1447 H
Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Adi Sucipto Jajar Solo.
Daftar Isi :


Kitab Al-Buyu' - Bab Muzara'ah

1.    PENGERTIAN MUZARAโ€™AH

Menurut bahasa, kata muzaraโ€™ah adalah kerjasama mengelola tanah dengan mendapat sebagian hasilnya. Sedangkan menurut istilah fiqh ialah pemilik tanah memberi hak mengelola tanah kepada seorang petani dengan syarat bagi hasil atau semisalnya.

 2.    PENSYARIโ€™ATAN MUZARAโ€™AH

ุนูŽู†ู’ ู†ูŽุงููุนู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ูŽ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู‡ู: "ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ - ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ - ุนูŽุงู…ูŽู„ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุฎูŽูŠู’ุจูŽุฑูŽ ุจูุดูŽุทู’ุฑู ู…ูŽุง ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุซูŽู…ูŽุฑู ุฃูŽูˆู’ ุฒูŽุฑู’ุนู"

Dari Nafiโ€™ dari Abdullah bin Umar radhiyallahu'anhu , bahwa ia pernah mengabarkan kepada Nafiโ€™ radhiyallahu'anhu pernah memperkejakan penduduk Khaibar dengan syarat bagi dua hasil kurmanya atau tanaman lainnya. (Muttafaqun โ€˜alaih: Fathul Bari VI: 13 no: 2329, Muslim XCIII: 1186 no: 1551, โ€˜Aunul Maโ€™bud IX: 272 no: 3391, Ibnu Majah II: 824 no: 2467, Tirmidzi II: 421 no: 1401). Refer:  https://shamela.ws/book/98086/340

Imam Bukhari menulis, Qais bin Muslim meriwayatkan dari Abu Jaโ€™far, ia berkata, โ€œSeluruh Ahli Bait yang hijrah ke Madinah adalah petani dengan cara bagi hasil sepertiga dan seperempat. Di antaranya lagi yang telah melaksanakan muzaraโ€™ah adalah Ali, Saโ€™ad bin Malik, Abdullah bin Masโ€™ud, Umar bin Abdul Aziz, al-Qasim, Urwah, Keluarga Abu Bakar, Keluarga Umar, Keluarga Ali dan Ibnu Sirin.โ€ (Fathul Bari V: 10).

3.    PENANGGUNG MODAL

Tidak mengapa modal mengelola tanah ditanggung oleh si pemilik tanah, atau oleh petani yang mengelolanya, atau ditanggung kedua belah pihak.

Dalam Fathul Bari V: 10, Imam Bukhari menuturkan, โ€œUmar pernah mempekerjakan orang-orang untuk menggarap tanah dengan ketentuan; jika Umar yang memiliki benih, maka ia mendapat separuh dari hasilnya dan jika mereka yang menanggung benihnya maka mereka mendapatkan begitu juga.โ€ Lebih lanjut Imam Bukhari mengatakan, โ€œal-Hasan menegaskan, tidak mengapa jika tanah yang digarap adalah milik salah seorang di antara mereka, lalu mereka berdua menanggung bersama modal yang diperlukan, kemudian hasilnya dibagi dua. Ini juga menjadi pendapat az-Zuhri.โ€

Syarat-Syarat Muzara'ah

  • Para Pihak ('Aqidain): Pemilik tanah dan penggarap harus cakap hukum (baligh dan berakal).
  • Tanah: Harus jelas luas dan lokasinya, serta dapat ditanami.
  • Tanaman: Jenis tanaman harus jelas agar diketahui perkiraan hasilnya. 
  • Jangka Waktu: Harus ditetapkan waktu pengerjaan yang jelas (misalnya satu musim tanam atau satu tahun).

4.    YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN DALAM MUZARAโ€™AH

Dalam muzaraโ€™ah, tidak boleh mensyaratkan sebidang tanah tertentu ini untuk si pemilik tanah dan sebidang tanah lainnya untuk sang petani. Sebagaimana sang pemilik tanah tidak boleh mengatakan, โ€œBagianku sekian wasaq.โ€

ุนูŽู†ู’ ุญูŽู†ู’ุธูŽู„ูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ู‚ูŽูŠู’ุณู ุนูŽู†ู’ ุฑูŽุงููุนู ุจู’ู†ู ุฎูŽุฏููŠุฌู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ููŠ ุนูŽู…ูŽู‘ุงูŠูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ูƒูŽุงู†ููˆุง ูŠููƒู’ุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู‡ู’ุฏู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ - ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ - ุจูู…ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุจูุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุจูุนูŽุงุกู ุฃูŽูˆู’ ุดูŽูŠู’ุกู ูŠูŽุณู’ุชูŽุซู’ู†ููŠูŽู‡ู ุตูŽุงุญูุจู ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูุŒ ููŽู†ู’ู‡ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ - ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ - ุนูŽู†ู’ ุฐูŽูฐู„ููƒูŽ. ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู„ูุฑูŽุงููุนู: ููŽูƒูŽูŠู’ููŽ ู‡ููŠูŽ ุจูุงู„ุฏูู‘ูŠู†ูŽุงุฑู ูˆูŽุงู„ุฏูู‘ุฑู‡ูŽู…ูุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุงููุนูŒ: ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูู‡ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŒ ุจูุงู„ุฏูู‘ูŠู†ูŽุงุฑู ูˆูŽุงู„ุฏูู‘ุฑู‡ูŽู…ู.

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ุซู: ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ู†ูู‡ููŠูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽูฐู„ููƒูŽ ู…ูŽุง ู„ูŽูˆู’ ู†ูŽุธูŽุฑูŽ ูููŠู‡ู ุฐูŽูˆููˆ ุงู„ู’ููŽู‡ู’ู…ู ุจูุงู„ู’ุญูŽู„ูŽุงู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฌููŠุฒููˆู‡ู ู„ูู…ูŽุง ูููŠู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุฎูŽุงุทูŽุฑูŽุฉู.

Dari Hanzhalah bin Qais dari Rafiโ€™ bin Khadij, ia bercerita, โ€œTelah mengabarkan kepadaku dua orang pamanku, bahwa mereka pernah menyewakan tanah pada masa Nabi saw dengan (sewa) hasil yang tumbuh di parit-parit, dengan sesuatu (sebidang tanah) yang dikecualikan oleh si pemilik tanah. Maka Nabi saw melarang hal itu.โ€ Kemudian saya (Hanzhalah bin Qais) bertanya kepada Rafiโ€™, โ€œBagaimana sewa dengan Dinar dan Dirham?โ€ Maka jawab Rafiโ€™, โ€œTidak mengapa sewa dengan Dinar dan Dirham.โ€ Al-Laits berkata, โ€œYang dilarang dari hal tersebut adalah kalau orang-orang yang mempunyai pengetahuan perihal halal dan haram memperhatikan hal termaksud, niscaya mereka tidak membolehkannya karena di dalamnya terkandung bahaya.โ€ (Shahih: irwa-ul Ghalil V: 299, Fathul Bari V: 25 no: 2347 dan 46, Nasaโ€™i VII: 43 tanpa perkataan al-Laits). Refer: https://shamela.ws/book/98086/341#p1

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุญูŽู†ู’ุธูŽู„ูŽุฉูŽ ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุฑูŽุงููุนูŽ ุจู’ู†ูŽ ุฎูŽุฏููŠุฌู ุนูŽู†ู’ ูƒูุฑูŽุงุกู ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุจูุงู„ุฐูŽู‘ู‡ูŽุจู ูˆูŽุงู„ู’ูˆูŽุฑูู‚ูุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูู‡ูุŒ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูŠูุคูŽุงุฌูุฑููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู‡ู’ุฏู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ - ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ -ุŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงุฐููŠูŽุงู†ูŽุงุชูุŒ ูˆูŽุฃูŽู‚ู’ุจูŽุงู„ู ุงู„ู’ุฌูŽุฏูŽุงูˆูู„ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุดู’ูŠูŽุงุกู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฒูŽู‘ุฑู’ุนูุŒ ููŽูŠูŽู‡ู’ู„ููƒู ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽูŠูŽุณู’ู„ูŽู…ู ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽูŠูŽุณู’ู„ูŽู…ู ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽูŠูŽู‡ู’ู„ููƒู ู‡ูŽุฐูŽุงุŒ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูƒูุฑูŽุงุกูŒ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู‡ูŽุฐูŽุงุŒ ููŽู„ูุฐูŽู„ููƒูŽ ุฒูุฌูุฑูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ููŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ูŒ ู…ูŽุถู’ู…ููˆู†ูŒ ููŽู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูู‡ู

Dari Hanzhalah juga, ia berkata, โ€œSaya pernah bertanya kepada Rafiโ€™ bin Khadij perihal menyewakan tanah dengan emas dan perak. Jawab Rafiโ€™, โ€˜Tidak mengapa. Sesungguhnya pada periode Rasulullah orang-orang hanya menyewakan tanah dengan (sewa) hasil yang tumbuh di pematang-pematang (gailengan), tepi-tepi parit, dan beberapa tanaman lain. Lalu yang itu musnah dan yang ini selamat, dan yang itu selamat sedang yang ini musnah. Dan tidak ada bagi orang-orang (ketika itu) sewaan melainkan ini, oleh sebab itu yang demikian itu dilarang. Adapun (sewa) dengan sesuatu yang pasti dan dapat dijamin, maka tidak dilarang.โ€ (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 302, Muslim III: 1183 no: 116 dan 1547, โ€˜Aunul Maโ€™bud IX: 250 no: 3376 dan Nasaโ€™i VII : 43).

Akad dalam Muzara'ah

Muzara'ah memiliki sifat akad yang diperdebatkan di kalangan ulama mengenai apakah ia termasuk jaiz (boleh/tidak mengikat) atau lazim (mengikat).Berikut adalah rincian mengenai sifat akad tersebut:
 
1. Akad Muzara'ah Berstatus Jaiz (Ghairu Lazim)
Menurut ulama Hanafiyyah, Muzara'ah dianggap sebagai akad ghairu lazim (tidak mengikat).
  • Maknanya: Masing-masing pihak, baik pemilik lahan maupun penggarap, berhak membatalkan akad tersebut secara sepihak sebelum lahan ditanami, selama ada alasan yang dibenarkan.
  • Alasan: Ketidakjelasan (gharar) dalam hasil panen yang akan dibagi, karena hasil panen pada saat akad dilakukan masih bersifat ma'dum (belum ada).
2. Akad Muzara'ah Berstatus Lazim
Menurut ulama Malikiyyah dan pendapat mu'tamad lainnya, akad muzara'ah menjadi lazim (mengikat) jika benih telah ditaburkan atau ditanam.
  • Maknanya: Setelah proses tanam dimulai, akad tidak boleh dibatalkan secara sepihak, kecuali atas kesepakatan kedua belah pihak.
  • Alasan: Pihak penggarap telah menanamkan modal (benih dan tenaga), sehingga pembatalan sepihak akan menimbulkan kerugian yang nyata (dharar).

Berakhirnya Akad

Akad muzara'ah berakhir jika:

  1. Waktu yang disepakati dalam perjanjian telah berakhir.
  2. Salah satu pihak meninggal dunia (menurut pendapat Hanafiyyah), namun sebagian ulama lain menganggap ahli waris penggarap berhak melanjutkan akad.

Secara keseluruhan, meskipun pada awalnya bersifat jaiz (fleksibel), akad muzara'ah menjadi lazim (mengikat) setelah pekerjaan dilakukan untuk menghindari kerugian, yang sejalan dengan prinsip keadilan dalam fikih muamalah.

*****

Bab Musaaqat

Definisi Musaqah

Al-Musaqah yaitu menyerahkan pohon tertentu (seperti kurma-pent.) kepada orang yang akan mengurusinya (dengan imbalan) ia mendapatkan bagian tertentu (pula) dari buahnya, seperti setengah atau sejenisnya.

Pensyariโ€™atan Musaqah

Dari Ibnu โ€˜Umar Radhiyallahu โ€˜anhuma:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุนูŽุงู…ูŽู„ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุฎูŽูŠู’ุจูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุซูŽู…ูŽุฑู ุฃูŽูˆู’ ุฒูŽุฑู’ุนู.

โ€œBahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menyuruh penduduk Khaibar untuk menggarap lahan di Khaibar dengan imbalan separuh dari tanaman atau buah-buahan hasil garapan lahan tersebut.โ€ [Muttafaq โ€˜alaih: Telah disebutkan takhrijnya].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu aโ€™nhu, ia berkata:

ู‚ูŽุงู„ูŽุชู ูŽุงู’ู„ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ู„ูู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘: ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงู‚ู’ุณูู…ู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู†ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุฎููŠู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ุชูŽูƒู’ูููˆู†ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุฆููˆู†ูŽุฉูŽ ูˆูŽู†ูŽุดู’ุฑูŽูƒู’ูƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ุซูŽู‘ู…ูŽุฑูŽุฉู ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ุณูŽู…ูุนู’ู†ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุทูŽุนู’ู†ูŽุง.

โ€œOrang-orang Anshar berkata kepada Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bagilah pohon kurma antara kami dan sahabat-sahabat kami. Beliau menjawab, โ€˜Tidak.โ€™ Maka mereka berkata, โ€˜Kalian yang merawatnya dan kami bagi buahnya bersama kalian.โ€™ Maka, mereka menjawab, โ€˜Kami mendengar dan kami taat.โ€™โ€ [Muttafaq โ€˜alaih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 1471)], Shahiih al-Bukhari (V/8, no. 2325)].

Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 677 โ€“ 679.

โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ขโ€โโœฟโโ€โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ข

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ุฃูุดู’ุฑููƒูŽ ุจููƒูŽ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููƒูŽ ู„ูู…ูŽุง ู„ุง ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู

โ€œYa Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahuiโ€.

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dรฎnรขr Al-Aโ€™raj berkata, โ€œSetiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.โ€ [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyรข dalam Asy-Syukr Lillรขh]
    image
    โ€˜Ammรขr bin Yรขsir radhiyallรขhu โ€˜anhumรข berkata,โ€œAda tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.โ€ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhรขry secara Muโ€™allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini