Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

 ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

📚┃Materi : Membeli Surga Dua Kali
🎙┃ Pemateri : Ustadz Mufy Hanif Thalib, Lc. M.A. Hafidzahullah
🗓┃ Hari, Tanggal : Jum'at [Ba'da Maghrib], 25 September 2026 M / 14 Rabi’ul Akhir 1448 H
🕌┃Tempat : Masjid Abdurrahman Jihad - Borneo Flasher Boyolali
📖┃Daftar Isi: 



Alhamdulillah, kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita memohon pertolongan, ampunan, serta perlindungan kepada Allah dari keburukan diri dan keburukan amal perbuatan kita.

1. Luasnya Surga dan Hakikat Kekuasaan Allah

Allah Subhanahu wa Ta'ala menawarkan kepada kita nikmat yang sangat dahsyat: surga yang seluas langit dan bumi. Sampai saat ini, tidak ada seorang pun manusia yang sanggup mengukur secara pasti berapa luas, lebar, tinggi, maupun volume langit dan bumi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali 'Imran: 133)

Pertanyaan Sahabat tentang Keberadaan Neraka

Dahulu, seorang sahabat dari kalangan Arab Badui pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

"Ya Rasulullah, kalau langit dan bumi semuanya adalah surga, lalu di manakah neraka?"

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kemudian memberikan perumpamaan tentang pergantian siang dan malam:

  • Ketika siang yang terang benderang datang, di manakah malam?
  • Ketika malam yang gelap gulita datang, di manakah siang?

Kita tidak melihat keberadaan keduanya secara bersamaan, tetapi Allah Mahakuasa berganti keadaan sesuai kehendak-Nya. Hal ini mengajarkan kepada kita agar tidak membatasi kekuasaan Allah dengan ukuran akal manusia yang terbatas.

2. Meminta Surga yang Paling Tinggi

Surga bukanlah tempat yang sederhana. Di dalamnya terdapat kenikmatan yang sempurna dan abadi: sungai-sungai yang mengalir, buah-buahan yang tak pernah habis, serta kehidupan tanpa rasa tua dan sakit. Kenikmatan ini sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan keindahan dunia.

Mengapa Harus Meminta Surga Firdaus?

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menganjurkan agar ketika berdoa memohon surga, kita meminta Surga Firdaus yang paling tinggi. Sebab, Firdaus adalah tingkatan surga tertinggi dan paling utama.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِى سَبِيلِهِ ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Sesungguhnya di surga itu ada 100 tingkatan yang telah Allah janjikan bagi para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan adalah bagaikan jarak antara langit dan bumi. Jika kalian ingin meminta pada Allah, mintalah surga Firdaus. Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi, di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman, darinya pula mengalir sungai surga.” (HR. Bukhari, no. 7423)

Jangan Hanya Berdoa untuk Urusan Dunia

Sering kali doa kita hanya berputar pada kebutuhan duniawi: kesehatan, rezeki, rumah, kendaraan, atau pekerjaan. Semua itu boleh diminta, tetapi jangan sampai kita melupakan hal yang jauh lebih besar, yaitu keselamatan akhirat dan surga-Nya.

3. Teladan Meminta Surga: Dari Zaman Nabi hingga Bani Israil

Kebaikan yang Membawa Tawaran Doa

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dijamu oleh seorang sahabat di luar Madinah dengan makanan dan susu. Sebagai bentuk apresiasi atas kebaikan tersebut, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menawarkan:

"Silakan, apa yang kamu inginkan dariku?"

Sebagian besar manusia mungkin akan memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meminta kelunasan utang, kekayaan, atau fasilitas dunia. Namun, kisah ini menjadi momentum bagi Nabi untuk mengingatkan kita pada ikhtiar seorang wanita tua dari zaman Nabi Musa 'Alaihissalam.

Ketika Rasulullah ﷺ menawarkan hal itu sebagai bentuk apresiasi, lelaki Arab Badui tersebut menjawab:

"Aku meminta seekor unta beserta pelananya dan beberapa ekor kambing yang bisa diperas susunya oleh keluargaku."

Mendengar permintaan yang hanya berorientasi pada harta dunia yang fana tersebut, Rasulullah ﷺ merasa sangat menyayangkan kesempatannya. Beliau ﷺ kemudian bersabda kepada para sahabat yang lain:

"Apakah kalian merasa lemah (tidak mampu) untuk menjadi seperti wanita tua dari kalangan Bani Israil?"

Para sahabat pun penasaran dan bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah wanita tua dari Bani Israil itu?"

Rasulullah ﷺ kemudian menceritakan bahwa ketika Nabi Musa 'Alaihissalam hendak membawa Bani Israil keluar dari Mesir, mereka tersesat di jalan dan tidak tahu arah. Nabi Musa diberitahu bahwa mereka tidak akan bisa menemukan jalan kecuali jika mereka membawa serta makam Nabi Yusuf 'Alaihissalam.

Namun, tidak ada satu pun orang yang tahu di mana makam Nabi Yusuf berada, kecuali seorang wanita yang sudah sangat tua. Ketika Nabi Musa mendatangi wanita tua tersebut dan meminta petunjuk, wanita tua itu memberikan syarat yang sangat berat:

"Aku tidak akan menunjukkan makamnya kepadamu sampai engkau menjamin bahwa aku akan bersamamu di dalam surga."

Nabi Musa sempat merasa berat dengan permintaan itu, namun Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Musa agar mengabulkan permintaan sang wanita tua. Akhirnya makam Nabi Yusuf ditemukan, dan mereka bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat, sementara wanita tua itu berhasil mengamankan tempatnya di surga tertinggi.

💡 Pelajaran dari Kisah Ini

Melalui peristiwa ini, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk memiliki cita-cita yang tinggi (terutama urusan akhirat). Ketika diberi kesempatan emas oleh seorang Nabi yang doanya pasti dikabulkan, orang Badui tersebut justru memilih unta dan kambing (harta dunia yang akan habis). Sebaliknya, wanita tua Bani Israil dengan cerdas memanfaatkan kesempatan untuk meminta kenikmatan abadi, yaitu surga.

4. Surga Itu Mahal: Perjuangan Para Sahabat

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengingatkan bahwa dagangan Allah itu mahal, dan dagangan-Nya adalah surga.

Nabi ﷺ bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، ومَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ المنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ». [صحيح] - [رواه الترمذي]

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Siapa yang takut, hendaknya ia berjalan di awal malam. Siapa yang berjalan di awal malam, niscaya dia sampai tujuan. Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Ingatlah bahwa barang dagangan Allah itu adalah surga."

[Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Tirmiżi]

Jika untuk mendapatkan sebidang tanah atau rumah di dunia saja manusia harus bekerja keras puluhan tahun, bagaimana mungkin surga yang abadi bisa didapatkan secara cuma-cuma?

Sepuluh Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Ada sepuluh sahabat Nabi yang secara eksplisit telah dijamin masuk surga:

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq
  2. Umar bin Al-Khattab
  3. Utsman bin Affan
  4. Ali bin Abi Thalib
  5. Abdurrahman bin Auf
  6. Az-Zubair bin Al-Awwam
  7. Sa'ad bin Abi Waqqash
  8. Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah
  9. Thalhah bin Ubaidillah
  10. Sa'id bin Zaid

Meskipun jaminan surga sudah di tangan, hal itu tidak membuat mereka bersantai atau merasa aman dari ujian.

5. Utsman bin Affan: Sahabat yang "Membeli Surga" Dua Kali

Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu adalah contoh nyata bagaimana jaminan surga justru makin mengobarkan semangat beramal saleh.

A. Membeli Sumur Rumat

Pada awal hijrah di Madinah, kaum Muslimin kesulitan air bersih. Terdapat sebuah sumur milik seorang warga yang airnya sangat baik. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjanjikan balasan surga bagi siapa saja yang mau membeli dan mewakafkan sumur tersebut untuk umat.

Utsman bin Affan kemudian membelinya dengan harga yang sangat tinggi (35.000 dirham / 3.500 dinar) lalu menyedekahkannya secara gratis untuk seluruh kaum Muslimin.

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari secara mu’allaq bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ، فَيَكُونُ دَلْوُهُ فِيهَا كَدِلاَءِ المُسْلِمِينَ

“Barangsiapa yang membeli sumur “rumatun” , maka bagiannya dari air yang ia timba darinya itu seperti bagian air yang ditimba kaum muslimin.” Maka ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu pun membelinya.

Dalam hadits Shahih Bukhari rahimahullah pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَفَرَ رُومَةَ فَلَهُ الجَنَّةُ

Barangsiapa yang menggali sumur “rumatun”, maka baginya surga. Lalu ‘Utsman pun menggalinya.

Dan disebutkan dalam salah satu riwayat Basyir bin Basyir Al-Aslami disebutkan bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu mewakafkan sumur itu untuk kaum muslimin.

Dari Al-Walid bin Abi Hisyam berkata, Utsman berkata, “Rumahku yang di Mekkah ditempati (sebagai wakaf) oleh keturunanku dan orang-orang yang mau menempatinya.”

B. Menyiapkan Pasukan Perang Tabuk

Ketika Perang Tabuk Meletus pada tahun 9 Hijriah, kondisi ekonomi kaum Muslimin sedang sangat sulit (masa Jaisyul 'Usrah). Banyak sahabat menangis karena tidak memiliki bekal untuk berangkat perang.

Melihat kondisi tersebut, Utsman bin Affan mendermakan ratusan unta lengkap dengan perlengkapannya serta harta dalam jumlah yang fantastis untuk membiayai pasukan Islam, hingga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memuji dan meredhai pengorbanannya.

Kedermawanan Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu dalam membiayai pasukan Islam saat itu tercatat sebagai salah satu infak terbesar dalam sejarah Islam. Beliau menyumbangkan sekitar 300 ekor unta beserta perlengkapannya, 50 ekor kuda, dan 1.000 dinar emas.

Melihat pengorbanan yang begitu besar, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sangat terharu dan bersabda:

"Apa yang dilakukan Utsman setelah hari ini tidak akan membahayakannya (tidak akan merugikan agamanya)." (HR. Tirmidzi)

C. Kedermawanan di Masa Paceklik

Pada masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, terjadi krisis dan paceklik hebat. Kafilah dagang Utsman tiba dari Syam membawa bahan pangan melimpah.

Ketika para pedagang Madinah menawarkan keuntungan hingga lima kali lipat (500%), Utsman bertanya apakah ada yang bisa memberi lebih dari itu. Para pedagang kebingungan karena mereka adalah pedagang terbesar di Madinah. Utsman kemudian menolaknya sambil berkata:

"Ada yang memberiku penawaran lebih tinggi, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala."

bahwa Allah ta’ala menjanjikan balasan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat bagi orang yang bersedekah di jalan-Nya.

Utsman kemudian menyerahkan seluruh kafilah dagang beserta brings (gandum, minyak, kismis, dan bahan pangan lainnya) secara gratis untuk disedekahkan kepada fakir miskin dan rakyat Madinah yang kelaparan akibat paceklik.

6. Tetap Takut dan Khawatir Meski Sudah Dijamin Surga

Isyarat Ujian dan Kerendahan Hati

Dalam sebuah riwayat, Abu Musa Al-Asy'ari pernah menyaksikan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam duduk di sebuah kebun. Ketika Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bergiliran, Nabi mengizinkan mereka masuk dan memberikan kabar gembira berupa surga—khusus untuk Utsman, disertai isyarat akan datangnya ujian berat.

Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Dahulu aku bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam salah satu kebun di Madinah. Kemudian ada orang yang datang dan meminta ijin untuk masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bukakanlah gerbang untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga.” Maka aku pun membukakan untuknya ternyata yang datang adalah Abu Bakar. Kemudian aku kabarkan berita gembira yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepadanya. Maka dia pun memuji Allah. Lalu datang lagi seorang lelaki yang meminta ijin untuk masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bukakanlah gerbang untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga.” Maka aku pun membukakan untuknya ternyata yang datang adalah Umar. Kemudian aku kabarkan berita gembira yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepadanya. Maka dia pun memuji Allah. Lalu datang lagi seorang lelaki yang meminta ijin untuk masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bukakanlah gerbang untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga beserta musibah yang akan menimpanya.” Ternyata lelaki itu adalah Utsman. Kemudian aku kabarkan berita gembira yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepadanya. Maka dia pun memuji Allah lalu berkata, “Allahul musta’aan (Allah adalah tempat meminta pertolongan).”.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Manaqib)

Utsman di kemudian hari menghadapi fitnah besar saat menjadi khalifah hingga beliau gugur terbunuh di rumahnya demi menghindari pertumpahan darah di antara sesama Muslim.

7. Kunci Keselamatan: Memurnikan Tauhid

Suatu hari setelah wafatnya Rasulullah, Utsman terlihat duduk termenung hingga tidak menyadari salam dari Umar bin Al-Khattab. Ketika Abu Bakar mendatangi dan menanyakan sebabnya, Utsman mengungkapkan kekhawatirannya:

"Rasulullah telah wafat sebelum saya sempat menanyakan satu hal: Bagaimana caranya agar saya selamat di akhirat?"

Subhanallah! Seorang yang sudah dijamin surga dan menyedekahkan hartanya tanpa batas masih sangat mengkhawatirkan keselamatan dirinya di hadapan Allah.

Mendengar kekhawatiran Utsman, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu memberi kabar gembira bahwa beliau telah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Kunci keselamatan di akhirat yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah kalimat tauhid

"Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."

Jalan keselamatan utama bagi setiap hamba adalah:

  1. Memurnikan Tauhid: Jangan pernah menyekutukan Allah dengan apa pun.
  2. Menjaga Hati: Hindari ketergantungan hati kepada selain Allah.
  3. Menjaga Keikhlasan: Jauhkan ibadah dari sifat riya' (ingin dipuji) dan sum'ah.

Penutup

Kisah para sahabat mengajarkan kepada kita bahwa surga bukanlah sesuatu yang bisa diraih dengan angan-angan kosong. Mereka yang telah dijamin masuk surga justru menjadi manusia yang paling giat beramal dan paling takut akan azab Allah.

Jangan sampai kita hanya menginginkan surga di lisan, tetapi enggan menempuh jalannya. Marilah kita perbanyak amal saleh, gemar bersedekah, memelihara shalat, serta senantiasa menjaga keikhlasan dan tauhid kita.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosa-dosa kita, menerima seluruh amal ibadah kita, dan memasukkan kita ke dalam Surga Firdaus yang paling tinggi.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Poster Ringkasan

Ringkasan membeli surga 2 kali

*****