Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

Husnul Khatimah | Ustadz Abu Faza Ridwan, Lc., M.H. Hafidzahullah | Masjid Al-Ikhlas Singopuran



Pendahuluan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.

Kita memuji Allah atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita, baik nikmat yang kita minta maupun nikmat yang tidak pernah kita minta, tetapi Allah tetap memberikannya. Di antara nikmat tersebut adalah kesehatan, rezeki, serta nikmat batin berupa hidayah iman, Islam, dan sunnah.

Kita memohon kepada Allah agar senantiasa diteguhkan di atas hidayah sampai akhir hayat.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas tema yang sangat penting, yaitu husnul khatimah, kematian yang baik, serta lawannya, yaitu su’ul khatimah, kematian yang buruk. Semoga Allah melindungi kita dari su’ul khatimah dan menganugerahkan kepada kita akhir kehidupan yang diridai-Nya.

1. Kematian Adalah Keniscayaan

Kematian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Tidak ada manusia yang dapat hidup selamanya, baik orang yang memiliki kekayaan melimpah, jabatan tinggi, maupun tubuh yang sehat dan kuat.

Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30)

Bahkan Rasulullah ﷺ pun diberi penegasan oleh Allah bahwa beliau akan mengalami kematian. Jika manusia terbaik saja akan meninggal dunia, tentu kita lebih pantas untuk senantiasa mengingat kematian dan mempersiapkan diri menghadapinya.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengungkapkan bahwa ia tidak melihat suatu perkara yang begitu diyakini kepastiannya, tetapi manusia justru menyikapinya seolah-olah penuh keraguan, selain kematian.

Kita semua meyakini bahwa kematian pasti datang. Akan tetapi, perilaku kita terkadang seakan-akan menunjukkan bahwa kita akan hidup selamanya. Seseorang tetap bermaksiat, menunda taubat, dan menolak nasihat seolah-olah masih memiliki waktu yang sangat panjang.

Dunia yang Memperdaya

Salah satu sebab manusia lalai dari kematian adalah keindahan dunia. Rasulullah ﷺ menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang manis dan hijau, yakni menyenangkan, memikat, dan menarik perhatian manusia.

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai pengelola di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim no. 2742)

Keindahan dunia dapat membuat manusia terlena. Seseorang yang telah memiliki rumah ingin membangun rumah berikutnya. Orang yang sudah mempunyai perusahaan ingin menambah perusahaan lainnya. Keinginannya terus bertambah, seakan-akan tidak akan pernah meninggalkan dunia.

Padahal, semakin bertambah usia, semakin dekat pula seseorang dengan ajalnya. Karena itu, kekayaan dan pencapaian dunia tidak boleh membuat kita lupa bahwa kehidupan ini memiliki batas.

Allah Ta’ala berfirman:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (QS. Al-Humazah: 1–3)

Harta, jabatan, rumah, dan perusahaan tidak dapat menjadikan seseorang hidup abadi. Semua itu akan ditinggalkan ketika ajal tiba.

Orang Cerdas Adalah Orang yang Banyak Mengingat Kematian

Rasulullah ﷺ memuji orang-orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.

Dalam riwayat yang disebutkan dalam kajian, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan sesudahnya.

Redaksi yang masyhur dalam riwayat tersebut adalah:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

“Mereka adalah orang-orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

Catatan rujukan: Makna ini diriwayatkan dalam hadis tentang orang cerdas yang banyak mengingat kematian, antara lain dalam Sunan Ibnu Majah no. 4259. Redaksi lengkap hadis perlu dicocokkan dengan edisi yang digunakan.

Orang yang mengingat kematian akan berusaha memperbaiki amal, segera bertaubat, dan menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

2. Penentu Kehidupan Adalah Akhirnya

Seseorang mungkin telah menjalani kehidupan selama puluhan tahun dengan berbagai amal saleh. Ia melaksanakan shalat, menunaikan zakat, berhaji, berumrah, bersedekah, dan berwakaf. Namun, ia tidak mengetahui bagaimana keadaan dirinya ketika ajal datang.

Karena itu, kita tidak boleh merasa aman dengan amal yang telah dilakukan. Kita harus terus menjaga keikhlasan, memperbaiki diri, dan memohon keteguhan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada penutupnya.” (HR. Al-Bukhari no. 6607)

Hadis ini mengingatkan kita agar tidak hanya memperhatikan permulaan dan pertengahan kehidupan. Kita harus berusaha menjaga amal hingga akhir hayat.

Dalam hadis Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seseorang dapat melakukan amalan penghuni surga sebagaimana yang tampak bagi manusia, tetapi kemudian takdir mendahuluinya dan ia melakukan amalan penghuni neraka hingga akhirnya masuk neraka.

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian melakukan amalan penghuni surga sebagaimana yang tampak bagi manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan ia melakukan amalan penghuni neraka sebagaimana yang tampak bagi manusia, padahal ia termasuk penghuni surga.”  (HR. Al-Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643).

Hadis ini tidak mengajarkan kita untuk berputus asa, tetapi mengingatkan agar tidak merasa aman dari penyimpangan hati dan tidak tertipu oleh penampilan lahiriah.

Kisah Bal’am bin Ba‘ura

Dalam QS. Al-A‘raf, Allah menyebutkan seseorang yang telah diberi ayat-ayat-Nya, tetapi kemudian melepaskan diri darinya dan mengikuti hawa nafsunya. Para ahli tafsir menghubungkan kisah ini dengan Bal’am bin Ba‘ura.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu setan mengikutinya, sehingga dia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-A‘raf: 175–176)

Bal'am bin Ba'ura adalah seorang ulama atau ahli hikmah dari kalangan Bani Israil yang hidup pada zaman Nabi Musa 'Alaihissalam. Ia sangat dihormati dan dikenal memiliki karamah karena doanya selalu dikabulkan. Kisah hidupnya yang tragis menjadi perumpamaan tentang ulama yang tersesat akibat tergoda dunia. Penguasa yang zalim meminta Bal'am untuk mendoakan keburukan bagi Nabi Musa. Awalnya Bal'am menolak karena ia tahu Musa adalah utusan Allah, Bal'am akhirnya goyah setelah dibujuk oleh kaumnya, dijanjikan harta serta kedudukan yang tinggi, dan dipengaruhi oleh istrinya sendiri.

Setiap kali Bal'am mencoba mengucapkan doa keburukan untuk Nabi Musa, dengan kuasa Allah lidahnya terpeleset dan justru mendoakan kebaikan bagi Nabi Musa serta keburukan bagi kaumnya sendiri. Allah kemudian menyerupakan keadaannya dengan anjing yang terus menjulurkan lidahnya, baik dihalau maupun dibiarkan.

Kisah ini menjadi peringatan bahwa ilmu dan kedudukan tidak otomatis menjamin keselamatan seseorang. Yang diperlukan adalah ketundukan kepada Allah, keikhlasan, dan keteguhan hingga akhir kehidupan.

Pelajaran dari Imam Ahmad

Dalam kisah yang disampaikan penceramah, Imam Ahmad rahimahullah mengalami sakaratul maut dan berulang kali mengatakan, "Laa... bal ba’du" “Belum sekarang, belum sekarang.” Ketika ditanya, beliau menjelaskan bahwa setan datang dan mengatakan bahwa beliau telah selamat dari godaannya.

Imam Ahmad tidak ingin merasa bangga atau ujub sebelum benar-benar mengakhiri kehidupan. Kisah ini mengandung pelajaran penting: jangan merasa telah aman dari godaan setan sebelum ajal tiba.

3. Sebab-sebab Su’ul Khatimah

 

Sebab Pertama: Kebiasaan Buruk

Salah satu sebab yang dapat mengantarkan seseorang kepada su’ul khatimah adalah kebiasaan buruk yang terus dipelihara.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Dalam penafsiran ayat ini, terdapat kaidah yang dinukil dalam kajian dari Ibnu Katsir rahimahullah:

مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ

“Barang siapa hidup di atas sesuatu, ia akan meninggal di atas sesuatu tersebut.”

Kaidah ini mengingatkan kita bahwa kebiasaan sehari-hari sangat berpengaruh terhadap keadaan seseorang. Orang yang membiasakan diri shalat, berzikir, membaca Al-Qur’an, dan menjaga lisannya sedang melatih dirinya untuk tetap berada di atas ketaatan.

Sebaliknya, orang yang membiasakan diri mencaci, melaknat, bermaksiat, atau terus-menerus menikmati perkara yang dilarang sedang membangun kebiasaan yang berbahaya bagi akhir kehidupannya.

Hati Ibarat Wadah

Ada ungkapan Arab yang disebutkan dalam kajian:

الْإِنَاءُ بِمَا فِيهِ يَنْضَحُ

“Wadah akan memercikkan apa yang ada di dalamnya.”

Ungkapan ini menggambarkan bahwa hati manusia seperti wadah. Apa yang sering dilihat, didengar, diucapkan, dan dilakukan akan memengaruhi isi hatinya.

Jika hati dipenuhi dengan zikir, Al-Qur’an, ilmu yang bermanfaat, dan kecintaan kepada Allah, seseorang diharapkan lebih mudah mengucapkan kalimat yang baik ketika menghadapi kematian. Sebaliknya, jika hidupnya dipenuhi dengan kelalaian dan maksiat, kebiasaan tersebut dapat menjadi penghalang ketika ia membutuhkan keteguhan pada akhir hayat.

Karena itu, jangan menunggu tua untuk memperbaiki kebiasaan. Biasakan shalat tepat waktu, menjaga lisan, membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, dan segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Sebab Kedua : Dosa yang Tersembunyi

Sebab berikutnya adalah dosa tersembunyi yang dilakukan ketika seseorang bersendirian.

Ada orang yang di hadapan masyarakat terlihat saleh. Ia rajin menghadiri kajian, menjadi imam, dikenal sebagai orang berilmu, dan mendapatkan banyak pujian. Namun, ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya, ia berani melakukan maksiat.

Perbedaan antara penampilan lahiriah dan keadaan batin ini sangat berbahaya. Kesalehan tidak cukup hanya ditampilkan di hadapan manusia. Hati, niat, dan perilaku ketika bersendirian juga harus dijaga.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya sekalipun mereka tidak melihat-Nya, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” QS. Al-Mulk: 12

Ayat ini memuji orang-orang yang tetap takut kepada Allah meskipun tidak dilihat oleh manusia.

Dalam kajian, penceramah menekankan prinsip bahwa balasan sejenis dengan perbuatan. Seseorang yang sengaja memelihara kemaksiatan ketika tersembunyi tidak boleh merasa aman hanya karena manusia tidak mengetahuinya.

Oleh sebab itu, jagalah diri ketika bersendirian. Jangan hanya memperindah penampilan di hadapan masyarakat, tetapi abaikan keadaan hati ketika tidak ada orang lain.

Istiqamah Lahir dan Batin

Istiqamah yang benar mencakup dua hal:

  1. Istiqamah lahiriah, yaitu menjaga kewajiban dan ketaatan yang tampak, seperti shalat, sedekah, dan menjauhi larangan.
  2. Istiqamah batiniah, yaitu menjaga keikhlasan, memperbaiki niat, menjauhi riya, dan takut kepada Allah ketika bersendirian.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Ayat ini memberikan harapan bagi orang yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Ia berusaha menjaga amal lahir dan batin, bukan sekadar terlihat baik di hadapan manusia.

Rasa takut terhadap akhir kehidupan merupakan hal yang wajar. Namun, rasa takut itu hendaknya mendorong kita untuk semakin taat dan berbaik sangka kepada Allah, bukan membuat kita berputus asa.

Sebab Ketiga: Kesombongan

Sebab ketiga yang disampaikan dalam kajian adalah kesombongan. Salah satu bentuknya ialah merasa mampu melakukan segala sesuatu tanpa menyadari kebutuhan kepada pertolongan Allah.

Ketika merasa memiliki kemampuan, kekayaan, kendaraan, atau kedudukan, seseorang bisa menjadi lalai berdoa. Padahal, seluruh nikmat berasal dari Allah. Bahkan makanan yang kita konsumsi setiap hari tidak akan tersedia tanpa karunia-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu kalau bukan karena doamu.’” ( QS. Al-Furqan: 77)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Barang siapa tidak memohon kepada Allah, Allah murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3373)

Hadis ini mengingatkan kita tentang pentingnya berdoa dan menunjukkan kebutuhan kita kepada Allah. Seorang hamba semestinya tidak merasa cukup dengan kemampuan dirinya sendiri.

Kesombongan Adalah Sifat yang Tidak Pantas bagi Makhluk

Kesombongan merupakan sifat yang sangat tercela bagi manusia. Allah memiliki keagungan dan kebesaran yang mutlak, sedangkan manusia adalah makhluk yang lemah dan bergantung kepada-Nya.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah kain-Ku. Barang siapa menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2620)

Seorang hamba hendaknya menyadari keterbatasannya, memperbanyak doa, dan meminta pertolongan Allah dalam setiap urusan.

Tiga sebab su’ul khatimah yang ditekankan dalam kajian ini adalah kebiasaan buruk, dosa tersembunyi, dan kesombongan. Semuanya harus diwaspadai dengan taubat, perbaikan amal, dan permohonan pertolongan kepada Allah.

Memohon Perlindungan dari Fitnah Kehidupan dan Kematian

Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah doa memohon perlindungan dari empat perkara, yang dibaca sebelum salam dalam shalat.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588).

Doa ini mencakup permohonan perlindungan dari:

  1. Azab Jahanam.
  2. Azab kubur.
  3. Fitnah kehidupan dan kematian.
  4. Keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.

Fitnah kehidupan mencakup berbagai ujian yang dihadapi manusia selama hidupnya, termasuk godaan yang dapat merusak agama. Fitnah kematian dan alam kubur mengingatkan kita agar memohon keteguhan ketika menghadapi sakaratul maut dan pertanyaan di alam kubur.

Jangan hanya membaca doa ini sebagai rutinitas lisan. Hadirkan hati, pahami maknanya, dan sungguh-sungguh berharap agar Allah melindungi kita.

4. Sebab Husnul Khatimah: Memperbanyak Do'a

Doa Nabi Yusuf agar Wafat dalam Keadaan Muslim

Di antara doa yang sangat penting untuk kita panjatkan adalah doa Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Setelah Allah memberikan kedudukan dan mengajarkan kepadanya takwil mimpi, beliau tetap memohon agar diwafatkan dalam keadaan muslim dan dikumpulkan bersama orang-orang saleh.

Allah Ta’ala berfirman:

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. Wahai Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101).

Perhatikan bagaimana Nabi Yusuf tetap memohon akhir kehidupan yang baik meskipun telah mendapatkan kedudukan yang tinggi. Ini mengajarkan kita agar tidak melupakan akhirat ketika memperoleh keberhasilan dunia.

Kita boleh berusaha meraih kebaikan dunia, tetapi hendaknya selalu meminta kepada Allah agar diberi keteguhan dalam Islam hingga meninggal dunia.

Doa agar Hati Diteguhkan di Atas Agama

Rasulullah ﷺ sering berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Rujukan: Jami‘ At-Tirmidzi no. 3522.

Doa ini mengingatkan bahwa hati manusia berada di bawah kekuasaan Allah. Karena itu, kita harus terus meminta keteguhan, memperbaiki amal, dan tidak mengandalkan kemampuan diri sendiri.

Do'a Sebelum Tidur

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa sebelum tidur yang diawali dengan:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نفِسي إِلَيكَ، وَفَوَّضتُ أَمري إِلَيْكَ، وَأَلَجَأْتُ ظَهرِي إِلَيْكَ، رغبةً ورهْبَةً إِلَيْكَ، لامَلجأَ ولا مَنجى مِنْكَ إِلاَّ إِليكَ، آمنتُ بِكِتَابِكَ الذِي أَنزَلْت، وَبِنَبِيِّكَ الذِي أَرسَلتَ

“Ya Allah, aku telah menyerahkan diriku kepada-Mu, mempercayakan segala urusanku kepada-Mu, dan berserah diri kepada-Mu, karena keinginan dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung atau jalan keluar dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku telah beriman kepada Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

Doa ini merupakan bagian dari doa sebelum tidur yang diriwayatkan dalam HR. Al-Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar doa tersebut dibaca setelah berwudu dan berbaring pada sisi kanan.

Doa tersebut menunjukkan sikap berserah diri kepada Allah sebelum tidur. Kita tidak mengetahui apakah masih akan terbangun keesokan harinya, sehingga hendaknya tidur pun menjadi kesempatan untuk mengingat Allah dan menyerahkan diri kepada-Nya.

5. Sebab Husnul Khatimah: Istiqamah dalam Ketaatan

Husnul khatimah tidak diraih hanya dengan keinginan atau angan-angan. Seorang muslim harus berusaha menjaga ketaatan dan memperbaiki dirinya secara berkelanjutan. Istiqamah tidak berarti seseorang harus langsung melakukan banyak amalan sunah dalam jumlah besar. Istiqamah dimulai dengan menjaga kewajiban, kemudian menambah amalan sunah sesuai kemampuan.

Contohnya sebagai berikut:

  1. Menjaga shalat wajib. Bagi orang yang masih sering terlambat, mulailah dengan memperbaiki waktu shalat dan berusaha menjaga shalat berjemaah.
  2. Memperbaiki pakaian sesuai syariat. Bagi seorang muslimah, mulailah dengan menutup aurat secara benar dan memperbaiki cara berpakaian. Amalan tambahan dilakukan dengan ilmu dan mengikuti tuntunan syariat.
  3. Membiasakan puasa sunah secara bertahap. Orang yang belum terbiasa dapat memulai dengan puasa tiga hari setiap bulan, kemudian meningkatkan amalan sesuai kemampuan.
  4. Menambah ibadah secara bertahap. Jika telah terbiasa dengan suatu amalan, pertahankan amalan itu dan tambahkan amalan lain tanpa mengabaikan kewajiban.
  5. Menjaga keikhlasan. Jangan hanya berusaha terlihat saleh di hadapan orang lain. Jagalah niat dan ketaatan ketika bersendirian.

Rasulullah ﷺ mengingatkan agar seseorang tidak berlebihan dalam menjalankan agama sampai akhirnya tidak sanggup mempertahankannya.

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit agama melainkan agama itu akan mengalahkannya.” ( HR. Al-Bukhari no. 39).

Maksudnya bukan meremehkan kewajiban, melainkan tidak membebani diri dengan amalan tambahan di luar kemampuan hingga akhirnya merasa jenuh dan meninggalkan ketaatan.

Jaga kewajiban, lakukan amalan sunah sesuai kemampuan, dan teruslah meminta pertolongan Allah. Dengan demikian, kita berharap dapat mempertahankan ketaatan sampai akhir hayat.

Tiga Amalan yang Perlu Dijaga secara Istiqamah

Dalam kajian ini, penceramah menyebutkan tiga amalan yang perlu dijaga secara berkelanjutan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak).” (HR. Muslim no. 251)

Pertama: Memperbanyak Langkah Menuju Masjid

Berjalan menuju masjid untuk menunaikan shalat berjemaah merupakan amalan yang memiliki keutamaan. Jika memungkinkan, berjalan kaki merupakan bentuk pengamalan yang sesuai dengan makna lahiriah hadis tentang memperbanyak langkah menuju masjid.

Hal ini tetap disesuaikan dengan kemampuan seseorang. Orang yang memiliki keterbatasan atau keadaan yang menyulitkan boleh menggunakan kendaraan.

Kedua: Menantikan Waktu shalat Berikutnya

Menunggu shalat bukan berarti harus duduk di masjid sepanjang waktu tanpa melakukan kegiatan lain. Maknanya juga dapat berupa menjaga hati agar selalu merindukan waktu shalat berikutnya.

Setelah selesai shalat Subuh, seseorang tetap menjalankan aktivitasnya, tetapi ia tidak melupakan shalat Zuhur. Setelah shalat Zuhur, ia bersiap untuk shalat Asar. Ia tidak menganggap panggilan shalat sebagai gangguan, melainkan sebagai kesempatan untuk kembali menghadap Allah.

Ketiga: Menjaga Wudu

Berusaha menjaga wudu juga termasuk amalan yang disebutkan dalam kajian. Ketika memungkinkan, seseorang dapat mempertahankan keadaan suci dan memperbarui wudunya setelah batal.

Hal ini tidak berarti harus memaksakan diri hingga menyulitkan atau membahayakan diri. Yang ditekankan adalah kesungguhan menjaga kesucian dan memanfaatkan keadaan tersebut untuk beribadah.

Penutup

Husnul khatimah merupakan nikmat besar yang patut kita mohonkan kepada Allah. Kita tidak boleh merasa aman hanya karena telah melakukan berbagai amal saleh, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

Ada tiga sebab su’ul khatimah yang ditekankan dalam kajian ini:

  1. Membiasakan diri dengan kebiasaan buruk.
  2. Melakukan dosa tersembunyi ketika bersendirian.
  3. Memelihara kesombongan dan merasa tidak membutuhkan pertolongan Allah.

Adapun upaya yang perlu dilakukan untuk mengharapkan husnul khatimah adalah memperbaiki kebiasaan sehari-hari, menjaga kesalehan lahir dan batin, memperbanyak doa, serta istiqamah dalam ketaatan.

Semoga Allah memberikan keberkahan pada usia dan keluarga kita, membimbing kita menuju jalan yang diridai-Nya, melindungi kita dari fitnah kehidupan dan kematian, serta mewafatkan kita dalam keadaan muslim dan mengumpulkan kita bersama orang-orang saleh. Amin ya Rabbal ‘alamin.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

*****

Poster Ringkasan

Husnul Khatimah A Guide to a Good Ending

*******