بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
Beriman kepada Takdir merupakan salah satu rukun Iman, Dalam hadits Jibril, Nabi ﷺ diajarkan malaikat Jibril tentang iman, Islam dan Ihsan.
Tatkala ditanya tentang Iman, Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim, no. 8).
Manusia menerima takdir, baik itu takdir yang baik maupun yang buruk (dari sisi manusia) seperti berbagai macam musibah ataupun kesusahan saat di dunia, karena takdir bagi Allah ﷻ semuanya baik. Karena Allah ﷻ Maha Mengetahui (Al-Ilm) dan Maha Bijaksana (hikmah), maka segala hal yang ditakdirkan pasti ada hikmah yang baik bagi manusia.
بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
📚┃Materi : Merenungi Hari Penghisaban Amal
🎙┃ Pemateri : Ustadz Mishbah Abu Zakariya hafizhahullah.
🗓┃ Hari, Tanggal : Ahad, 26 Oktober 2025 M / 6 Jumadil Awwal 1447
🕌┃Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Safira Residence Singopuran
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya, Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan.
Kemudian, kehidupan di dunia adalah sementara, setelah kematian akan ada lagi proses pertanggungjawaban di akhirat.
فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-A'raf ayat 34).
Maka, barangsiapa yang mempersiapkan amal kebaikan dengan ikhlas dan ittibâ, merekalah orang-orang yang beruntung, sedangkan yang sedikit kebaikannya adalah orang-orang yang merugikan diri sendiri.
بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
📚┃ Materi : Kitabut Tadzkirah Biahwalil Mauta wa Umuril Aakhirah Karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtubiy Rahimahullah
🎙┃ Pemateri : Ustadz Muhammad Jamaludin hafizhahullah. (Pengasuh Ponpes Ma'hadul Qur’an Boyolali
🗓┃ Hari, Tanggal : Sabtu, 25 Oktober 2025 M / 3 Jumadil Awwal 1447
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Safira Residence Singopuran
📖┃ Daftar Isi :
Telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, beberapa sifat mizan:
Pendapat ini didukung oleh hadits berikut:
1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).
Selengkapnya: Mizan: Apa yang Ditimbang? | Apakah Orang Kafir Ditimbang? | Hasil Mizan
ثُمَّ بَعْدَ هذِهِ الْفِتْنَةِ إِمَّا نَعِيمٌ وَإِمَّا عَذَابٌ(١) إِلَى أن تَقُوْمَ الْقِيَامَةُ الْكُبْرَی(٢)
Kemudian setelah fitnah ini adalah nikmat atau azab(1) sampai tibalah Hari Kiamat kubra (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Jana'iz, Bab Ma Ja' a Fi Adzab al-Qabr)
"Kemudian". Ini hanyalah menunjukkan urutan dan bukan menunjukkan tenggang waktu, karena mayit akan langsung mendapatkan nikmat atau azab sebagaimana telah disebutkan bahwa jika dia menjawab, "tidak tahu" maka dia dipukul dengan palu besi, dan bahwa mayit yang menjawab dengan benar langsung dibukakan pintu surga untuknya dan kuburnya akan dilapangkan.
Nikmat atau azab ini, apakah untuk badan atau ruh atau keduanya sekaligus?
Kami katakan, yang diketahui di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah bahwa pada dasarnya nikmat dan azab itu untuk ruh, sedangkan badan mengikutinya, sebagaimana azab di dunia adalah terhadap badan dan ruh mengikutinya, dan sebagaimana hukum syar'i di dunia berlaku bagi badan secara zahirnya dan di akhirat adalah sebaliknya. Jadi di alam kubur, azab atau nikmat itu dikenakan terhadap ruh, akan tetapi jasad terpengaruh secara otomatis dan bukan independen. Dan bisa saja azab dikenakan terhadap badan, sementara ruh mengikutinya, sedangkan nikmat dikenakan terhadap ruh, sementara badan mengikutinya, hanya saja ini sangat jarang terjadi, karena pada prinsipnya azab itu dikenakan terhadap ruh dan badan mengikutinya.
Selengkapnya: Syarah Aqidah Wasithiyah: Nikmat dan Azab Kubur