بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
📚┃ Materi : Bulughul Maram - Kitabul Jami' [Bab Do'a dan Dzikir Hadits 11-13].
🎙┃ Pemateri : Ustadz Ibnu Amny Sahid hafizhahullah.
🗓️┃ Hari, Tanggal : Ahad, 25 Oktober 2026 M / 14 Jumadil Awal 1448
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Safira Residence Singopuran
📖 | Daftar Isi:
<
Pembahasan Kitabul Jami' Bulughul Maram Hadits ke 11–13
Keutamaan Doa dan Waktu-Waktu Mustajab
Muqaddimah
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada kita. Kita bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kita juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya.
Semoga shalawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, istri-istri, keturunan, serta seluruh pengikut beliau.
Pada kesempatan ini kita memohon kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima. Kita juga memohon pertolongan-Nya agar senantiasa dapat mengingat, bersyukur, dan beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.
Amma ba'du.
Kajian kali ini merupakan kelanjutan pembahasan Kitabul Jami' dari kitab Bulughul Maram, yaitu bab keenam yang membahas hadits-hadits seputar zikir dan doa. Pada pertemuan ini kita akan mempelajari hadits ke-11 sampai ke-13.
Tema yang akan kita bahas adalah "Senjata Itu Bernama Doa: Sebuah Kekuatan bagi Orang Beriman yang Sering Kali Diabaikan."
1. Doa Merupakan Ibadah yang Agung
Salah satu ibadah yang sangat mulia dalam agama Islam, tetapi sering kali belum benar-benar dipahami dan diyakini oleh sebagian manusia, adalah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam kehidupan masyarakat, terkadang doa justru ditempatkan pada urutan kedua. Sebagian orang lebih mengutamakan ritual-ritual tertentu atas nama budaya dan kearifan lokal, bahkan seolah-olah meyakini bahwa ritual tersebut lebih manjur daripada doa yang disyariatkan.
Sebagai contoh, ketika menghadapi musim kemarau panjang dan musibah kebakaran hutan serta lahan, terdapat sebagian masyarakat yang melakukan ritual adat berupa memandikan benda pusaka, termasuk meriam kuno, dengan harapan agar hujan segera turun.
Padahal, Islam telah mengajarkan solusi yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ, yaitu melaksanakan shalat istisqa, shalat meminta hujan, disertai doa dan permohonan kepada Allah.
Pertanyaannya, apakah tuntunan Nabi ﷺ tersebut masih kurang sehingga sebagian orang justru mencari jalan lain dengan menggantungkan harapan kepada benda-benda pusaka?
Kita perlu menyadari bahwa doa adalah ibadah. Oleh karena itu, doa hanya boleh ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak boleh seorang muslim memalingkan doa kepada selain-Nya, baik kepada orang yang telah meninggal, benda pusaka, maupun makhluk lainnya.
Keteladanan para nabi dalam berdoa
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan gambaran mengenai keteladanan para nabi dan rasul dalam beribadah dan berdoa.
Allah berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 90:
يَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Yad'ụnanā ragabaw wa rahabā, wa kānụ lanā khāsyi'īn.
"Mereka senantiasa berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya: 90)
Ayat ini menjelaskan karakter para nabi dan orang-orang saleh. Mereka senantiasa bersegera dalam melakukan kebaikan dan terus-menerus berdoa kepada Allah dengan penuh harapan sekaligus rasa takut kepada-Nya.
Allah juga berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
"Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya: 90)
Inilah teladan yang seharusnya kita ikuti. Para nabi dan rasul, manusia pilihan Allah, senantiasa menggantungkan harapan kepada-Nya.
Para ulama juga telah mengingatkan bahwa salah satu bentuk kesyirikan yang banyak terjadi di tengah manusia adalah kesyirikan dalam masalah doa, yaitu memohon kepada orang-orang yang telah meninggal dunia atau kepada selain Allah.
Oleh sebab itu, tugas kita adalah mengedukasi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat agar memahami bahwa doa hanya boleh dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
2. Hadits ke-11: Do'a Adalah Ibadah
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah membawakan hadits dari sahabat An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ
Innad-du'ā'a huwal-'ibādah.
"Sesungguhnya doa itu adalah ibadah." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi menilainya hasan sahih).
Hadits ini menunjukkan bahwa doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat agung dalam agama Islam. Namun, bukan berarti seluruh ibadah hanya terbatas pada doa. Maksudnya, doa merupakan bagian penting dari penghambaan seorang hamba kepada Allah.
Setiap ibadah yang agung tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Termasuk ketika seseorang berada dalam keadaan sulit dan membutuhkan pertolongan. Ia harus kembali memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bahkan, apabila kita memperhatikan ibadah shalat lima waktu, kandungan bacaan di dalamnya dipenuhi dengan doa. Secara bahasa, kata shalat juga memiliki makna doa.
Shalat merupakan sarana seorang hamba membangun hubungan penghambaan dengan Allah. Di dalamnya terdapat pujian, permohonan, pengakuan atas kelemahan diri, serta permintaan petunjuk dan pertolongan.
Karena itu, salah satu indikator lurus atau tidaknya akidah seseorang dapat dilihat dari kepada siapa ia memanjatkan doa.
Kesyirikan dalam masalah doa
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan peringatan mengenai salah satu bentuk kesyirikan yang banyak dilakukan manusia, yaitu berdoa dan meminta kepada orang-orang yang telah meninggal dunia.
Beliau menjelaskan bahwa banyak manusia terjerumus dalam kesyirikan melalui doa kepada selain Allah. Jika pada zaman jahiliah sebagian orang meminta kepada orang-orang yang dianggap saleh, pada zaman sekarang bahkan ada yang menggantungkan harapan kepada benda-benda mati dan pusaka.
Ini merupakan perkara yang harus diwaspadai. Bagaimana mungkin seseorang menggantungkan harapan kepada benda mati yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat ataupun menolak bahaya dengan sendirinya?
Oleh karena itu, seorang muslim harus berhati-hati dalam masalah doa. Jangan sampai hati bergantung kepada makhluk, benda, atau sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan apa pun.
Ancaman bagi orang yang enggan berdoa
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Wa qāla rabbukumud'ụnī astajib lakum, innallażīna yastakbirụna 'an 'ibādatī sayadkhulụna jahannama dākhirīn.
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." (QS. Ghafir: 60)
Ayat ini merupakan perintah Allah agar manusia berdoa dan memohon kepada-Nya.
Para ulama menjelaskan bahwa orang yang sombong dari beribadah kepada Allah termasuk orang yang enggan berdoa kepada-Nya.
Bayangkan, ketika Allah memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya dan menjanjikan pengabulan doa, tetapi kita justru enggan melakukannya. Ini merupakan sikap yang sangat tercela.
Apalagi jika seseorang meninggalkan Allah dan justru meminta kepada pihak lain yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengabulkan permintaannya.
Nasihat seorang penyair Arab
Ada sebuah nasihat dari seorang penyair Arab yang sangat baik untuk kita renungkan:
Lā tas'alanna bani Ādama hājatan, was'alillāhal-ladzī abwābuhu lā tuh jabu.
"Janganlah engkau meminta suatu kebutuhan kepada manusia. Mintalah kepada Allah yang pintu-pintu-Nya tidak pernah tertutup."
Allāhu yaghdhabu in tarakta su'ālahu, wa bani Ādama hīna yus'alu yaghdhabu.
"Allah murka apabila engkau meninggalkan permohonan kepada-Nya, sedangkan manusia akan marah ketika dimintai sesuatu."
Nasihat ini mengandung pelajaran yang sangat berharga. Manusia memiliki keterbatasan. Ketika kita terlalu sering meminta kepada manusia, mereka bisa merasa terganggu, bosan, bahkan marah.
Berbeda dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seorang hamba justru diperintahkan untuk terus berdoa, merendahkan diri, dan memohon kepada-Nya. Maka jangan pernah merasa malu atau bosan untuk meminta kepada Allah.
3. Hadits ke-12: Tidak Ada Sesuatu yang Lebih Mulia di Sisi Allah daripada Doa
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah kemudian membawakan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الدُّعَاءِ
Laisa syai'un akrama 'alallāhi minad-du'ā'.
"Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa." (HR. At-Tirmidzi no. 3370. At-Tirmidzi menilainya hasan gharib; hadits ini juga dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim sebagaimana disebutkan dalam Bulughul Maram).
Hadits ini menjelaskan betapa mulianya doa di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kata akram dalam hadits tersebut bermakna sesuatu yang sangat mulia. Para ulama juga menjelaskan kandungan kemuliaan doa sebagai amalan yang dicintai Allah.
Mengapa doa memiliki kedudukan yang demikian tinggi? Karena di dalam doa terdapat pengakuan seorang hamba terhadap kelemahan dan kebutuhannya kepada Allah. Ia menunjukkan ketundukan, kefakiran, serta penghambaan kepada Zat Yang Mahakaya.
Ada tiga unsur penghambaan yang terkandung dalam doa.
Tiga Unsur Penghambaan dalam Doa
- Pertama, penghambaan hati.
Ketika seseorang berdoa, hatinya tunduk dan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah, sedangkan Allah adalah Zat Yang Mahakaya dan Mahakuasa.
Jangan sampai hati kita justru terikat kepada benda-benda pusaka atau makhluk lainnya. Jangan sampai seseorang memiliki keyakinan bahwa suatu benda harus dimandikan atau diberikan ritual tertentu agar hujan turun atau masalahnya selesai.
Hati seorang mukmin harus senantiasa bergantung kepada Allah.
- Kedua, penghambaan lisan.
Ketika berdoa, lisan kita menyebut dan memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang indah. Salah satu doa yang diajarkan dan dibaca oleh Rasulullah ﷺ ketika menghadapi kesulitan adalah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
Yā Hayyu Yā Qayyūm, bi rahmatika astaghīts, ashlih lī sya'nī kullahu, wa lā takilnī ilā nafsī tharfata 'ain.
"Wahai Zat Yang Mahahidup, wahai Zat Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurus seluruh makhluk-Nya. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata."
Doa ini mengandung pujian kepada Allah dengan dua nama-Nya, yaitu Al-Hayyu dan Al-Qayyum. Al-Hayyu berarti Yang Mahahidup dengan kehidupan yang sempurna. Al-Qayyum berarti Zat yang berdiri sendiri dan mengurus seluruh makhluk-Nya.
Di dalam doa ini kita mengakui bahwa seluruh urusan kita membutuhkan pertolongan dan pengaturan Allah.
- Ketiga, penghambaan anggota badan.
Ketika seseorang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, ia sedang menunjukkan kerendahan dirinya di hadapan Allah. Demikian pula ketika kita melaksanakan shalat istisqa, kita menengadahkan tangan dan memohon hujan kepada Allah dengan penuh ketundukan.
Inilah bentuk penghambaan anggota badan yang disertai ketundukan hati dan lisan. Jadi, doa bukan sekadar mengucapkan permintaan. Di dalamnya terdapat penghambaan hati, lisan, dan anggota badan. Karena itulah seorang muslim seharusnya tidak pernah jemu berdoa kepada Allah.
Jangan tergesa-gesa dalam berdoa
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ
Yustajābu li ahadikum mā lam ya'jal.
"Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa."
Para sahabat bertanya mengenai orang yang tergesa-gesa tersebut. Rasulullah ﷺ menjelaskan:
يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ رَبِّي فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي
Yaqūlu: qad da'autu rabbī falam yastajib lī.
"Dia berkata, 'Aku sudah berdoa kepada Tuhanku, tetapi Dia belum juga mengabulkan permintaanku'." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).
Hadits ini mengajarkan agar kita tidak mudah berputus asa ketika doa belum terlihat hasilnya. Jangan sampai seseorang berkata, "Saya sudah berdoa berkali-kali, setiap hari berdoa, bahkan sudah bertahun-tahun, tetapi Allah belum juga mengabulkannya."
Ucapan semacam itu menunjukkan ketergesa-gesaan dalam mengharapkan hasil doa. Padahal, doa seorang mukmin tidak akan sia-sia selama ia memenuhi ketentuan yang disyariatkan dan tidak terdapat penghalang yang menghalangi terkabulnya doa.
Tiga bentuk pengabulan doa
Ketika seorang hamba berdoa kepada Allah, pengabulan doa dapat terjadi dalam beberapa bentuk.
- Allah menyegerakan permintaan hamba-Nya: Ada kalanya Allah langsung memberikan apa yang diminta oleh seorang hamba. Misalnya, seseorang memohon rezeki yang lapang, pekerjaan yang baik, atau kemudahan dalam urusannya, kemudian Allah menyegerakan pemberian tersebut.
- Allah menyimpan pahala dan pengabulan doa untuk akhirat: Ada kalanya apa yang diminta tidak diberikan di dunia, tetapi Allah menyimpannya sebagai pahala dan balasan di akhirat. Kelak seorang hamba akan melihat bahwa doa-doanya tidak pernah sia-sia. Bahkan, ia akan menyadari betapa besar pahala yang telah disiapkan oleh Allah.
- Allah menghindarkan hamba dari keburukan yang semisal. Ada kalanya seseorang tidak mendapatkan sesuatu yang diminta, tetapi Allah justru menghindarkan dirinya dari musibah atau keburukan. Misalnya, seseorang memohon keselamatan, kemudian Allah menyelamatkannya dari kecelakaan atau bencana yang tidak pernah ia ketahui.
Dengan demikian, jangan menilai pengabulan doa hanya berdasarkan apa yang terlihat dan kita peroleh di dunia. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap belum dikabulkan ternyata Allah menggantinya dengan perlindungan dari bahaya atau pahala yang jauh lebih besar.
4. Hadits ke-13: Doa antara Azan dan Iqamah Tidak Ditolak
Hadits ketiga yang dibawakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar adalah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ لَا يُرَدُّ
Ad-du'ā'u bainal-adzāni wal-iqāmati lā yuraddu.
"Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak." (HR. Abu Dawud no. 521 dan At-Tirmidzi no. 212. At-Tirmidzi menilainya hasan).
Hadits ini menjelaskan salah satu waktu terbaik untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu waktu antara azan dan iqamah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar membawakan hadits ini agar kita memahami bahwa ada waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan khusus untuk berdoa.
Jangan sia-siakan waktu antara azan dan iqamah
Waktu antara azan dan iqamah sering kali sangat terbatas. Di sebagian masjid, jeda antara azan dan iqamah mungkin sekitar 15–20 menit. Pada waktu shalat lainnya, jedanya bahkan bisa lebih singkat.
Waktu yang terbatas ini merupakan kesempatan berharga yang seharusnya tidak kita sia-siakan. Namun, apa yang sering terjadi?
Sebagian orang justru sibuk memperhatikan jam atau timer. Ketika melihat masih ada beberapa menit sebelum iqamah, mereka membuka telepon genggam, membaca pesan WhatsApp, membalas pesan, atau mengakses media sosial.
Ada pula yang bertemu dengan teman kemudian asyik berbincang hingga iqamah dikumandangkan. Padahal, waktu tersebut merupakan kesempatan yang sangat baik untuk berdoa kepada Allah.
Jangan sampai kita melewatkan waktu emas tersebut hanya untuk perkara-perkara yang sebenarnya dapat dilakukan setelah shalat.
Lebih utama berdoa atau membaca Al-Qur'an?
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah pernah menjelaskan pembahasan mengenai pemanfaatan waktu antara azan dan iqamah: apakah lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur'an atau berdoa?
Dalam penjelasan yang disampaikan pemateri, beliau memilih untuk mengutamakan doa pada waktu tersebut karena waktu antara azan dan iqamah merupakan kesempatan khusus yang terbatas. Sementara membaca Al-Qur'an dapat dilakukan kapan saja, tidak terbatas pada waktu itu.
Oleh karena itu, hendaknya kita memanfaatkan waktu antara azan dan iqamah untuk berdoa kepada Allah. Jika belum ingin berdoa atau tidak memiliki permintaan tertentu, manfaatkan waktu tersebut untuk membaca Al-Qur'an.
Setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca memiliki nilai kebaikan yang dilipatgandakan. Apabila menggunakan mushaf digital di telepon genggam, sebaiknya matikan koneksi internet agar tidak tergoda membuka media sosial atau aplikasi lainnya.
Seorang mukmin harus cerdas dalam memanfaatkan kesempatan beramal. Jangan sampai waktu yang penuh keutamaan justru berlalu tanpa memberikan manfaat. Bayangkan, dalam sehari semalam kita memiliki lima kali kesempatan memanfaatkan waktu antara azan dan iqamah, yaitu pada waktu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Alangkah meruginya jika kesempatan tersebut selalu kita lewatkan.
5. Kesimpulan dan Faedah Kajian
Dari tiga hadits yang telah kita pelajari, terdapat beberapa faedah penting yang perlu kita perhatikan.
- Pertama: Doa merupakan salah satu ibadah yang sangat agung dan mulia dalam agama Islam. Seorang muslim harus memahami kedudukan doa dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam kehidupannya.
- Kedua: Doa hanya boleh dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak boleh memalingkan doa kepada selain-Nya, baik kepada orang yang sudah meninggal, benda pusaka, maupun makhluk lainnya.
- Ketiga: Seorang muslim tidak boleh bosan dan berputus asa dalam berdoa. Jangan tergesa-gesa mengharapkan pengabulan doa karena Allah mengetahui waktu dan bentuk terbaik untuk mengabulkan permohonan hamba-Nya.
- Keempat: Kita harus memahami fikih dalam berdoa, termasuk memilih waktu-waktu yang memiliki keutamaan dan lebih besar harapan untuk dikabulkan.
- Kelima: Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah antara azan dan iqamah. Manfaatkan waktu tersebut dengan memperbanyak doa, bukan justru menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang kurang bermanfaat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa, bertawakal, dan menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya.
6. Penutup dan Doa
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua, membimbing kita di atas kebaikan dan kebenaran hingga ajal menjemput.
Semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Menguasai dan Mahakuasa atas segala sesuatu.
7. Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan pertama: Ketika mendengar azan saat sedang berwudu, mana yang harus didahulukan?
Seorang jamaah bertanya, apabila seseorang sedang berada di rumah dan sedang berwudu, kemudian mendengar azan dari masjid, apakah lebih utama menjawab azan terlebih dahulu atau menyelesaikan wudu dan segera berangkat ke masjid?
Jawaban pemateri:
Wallahu a'lam. Apabila waktunya masih longgar dan diperkirakan tidak akan terlambat mengikuti shalat berjamaah, sebaiknya menjawab azan terlebih dahulu.
Salah satu keutamaan menjawab azan dan membaca doa setelah azan adalah mendapatkan syafaat Rasulullah ﷺ dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, jangan sampai seseorang justru meninggalkan salah satu amalan tersebut. Jika waktunya memungkinkan, lakukan keduanya.
Setelah menjawab azan dan membaca doa setelahnya, lanjutkan dengan berwudu. Adapun jika waktunya sempit, tidak mengapa menjawab bagian azan yang terdengar sambil melanjutkan wudu, selama tidak mengganggu ketertiban dan kesempurnaan wudu.
Ketika muazin mengucapkan:
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
Hayya 'alash-shalāh.
Dan:
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Hayya 'alal-falāh.
Maka kita menjawab:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lā haula wa lā quwwata illā billāh.
"Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."
Pertanyaan kedua: Lebih utama shalat tahiyatul masjid atau berdoa ketika waktu iqamah sudah dekat?
Seorang jamaah bertanya, apabila sudah berada di masjid dan waktu iqamah tinggal sekitar tiga menit, mana yang lebih utama: mengerjakan shalat tahiyatul masjid atau memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa?
Jawaban pemateri:
Kita melihat kondisi dan kemampuan masing-masing. Apabila masih memungkinkan, kita dapat mengerjakan shalat tahiyatul masjid dengan bacaan yang ringkas, kemudian memanfaatkan sisa waktu untuk berdoa kepada Allah. Namun, jika waktunya sangat sempit dan dikhawatirkan tidak dapat menyelesaikan shalat sebelum iqamah, tidak perlu memaksakan diri. Gunakan waktu tersebut untuk berdoa.
Sebenarnya, ketika seseorang mengerjakan shalat, ia juga sedang berdoa kepada Allah. Terlebih ketika sujud. Dalam keadaan tersebut, seorang hamba berada dalam posisi yang sangat dekat dengan Allah dan dianjurkan memperbanyak doa.
Dengan demikian, apabila memungkinkan, gabungkan kedua amalan tersebut. Jika tidak memungkinkan, pilihlah yang lebih mudah dilakukan tanpa menimbulkan kesulitan.
Pertanyaan ketiga: Bolehkah menggunakan doa-doa dalam zikir pagi dan petang untuk berdoa di waktu lain?
Seorang jamaah bertanya apakah doa-doa yang biasa dibaca dalam zikir pagi dan petang, seperti Sayyidul Istighfar, boleh dibaca dalam kesempatan lain, misalnya ketika sujud atau sebelum salam dalam shalat.
Jawaban pemateri:
Wallahu a'lam, boleh.
Tidak berarti suatu doa hanya boleh dibaca pada waktu zikir pagi dan petang karena doa tersebut terdapat dalam rangkaian zikir pagi dan petang. Yang perlu diperhatikan adalah kandungan dan substansi bacaan tersebut.
Apabila bacaan itu mengandung permohonan kepada Allah, maka boleh digunakan untuk berdoa pada kesempatan lainnya. Misalnya, membaca Sayyidul Istighfar:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Allāhumma anta rabbī, lā ilāha illā anta.
"Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau."
Doa tersebut boleh dibaca ketika seseorang berdoa kepada Allah, termasuk dalam sujud atau sebelum salam. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seseorang memilih doa yang disukainya sebelum mengakhiri shalat dengan salam. Namun, perlu dibedakan antara bacaan yang benar-benar mengandung doa dan bacaan yang hanya berupa zikir atau tasbih.
Apabila suatu bacaan hanya berupa tasbih, seperti Subhanallah wa bihamdihi, maka itu termasuk zikir, bukan permohonan secara langsung. Jadi, kita dapat memilih doa-doa yang terdapat dalam zikir pagi dan petang untuk dibaca pada waktu lainnya selama kandungannya memang berupa doa.
Pertanyaan keempat: Bagaimana dengan riwayat Bilal bin Harits yang mendatangi kuburan Nabi untuk meminta hujan?
Seorang jamaah menyampaikan sebuah riwayat yang sering dijadikan dalil untuk membolehkan seseorang mendatangi kuburan Nabi ﷺ setelah beliau wafat, kemudian meminta kepada beliau agar memohonkan hujan untuk umat Islam.
Dalam riwayat tersebut diceritakan bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu terjadi musim kemarau. Kemudian Bilal bin Harits mendatangi kuburan Nabi ﷺ dan menyampaikan permintaan agar hujan diturunkan untuk umat Islam.
Disebutkan pula bahwa Bilal kemudian bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ yang mengabarkan bahwa hujan akan turun. Riwayat ini sering dijadikan argumentasi oleh sebagian pihak untuk membolehkan meminta kepada Nabi setelah beliau wafat.
Jawaban pemateri:
Pertama, kita perlu memeriksa terlebih dahulu kebenaran dan keautentikan riwayat tersebut.
Pemateri menyampaikan bahwa beliau belum dapat memastikan kualitas riwayat tersebut. Oleh karena itu, tidak tepat apabila langsung menjadikannya sebagai dalil sebelum dilakukan penelitian terhadap sanad dan penjelasan para ulama hadits.
Pada zaman sekarang, banyak beredar video pendek di media sosial yang mengambil potongan-potongan riwayat, kemudian diberikan narasi mengenai keutamaan suatu amalan tanpa penjelasan ilmiah yang memadai. Masyarakat harus berhati-hati agar tidak mudah menerima setiap informasi agama yang beredar.
Kedua, terdapat prinsip mendasar dalam Al-Qur'an bahwa doa dan permohonan ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Wa annal-masājida lillāhi fa lā tad'ū ma'allāhi ahadā.
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah dan berdoa kepada siapa pun selain Allah." (QS. Al-Jinn: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah doa harus dimurnikan hanya kepada Allah. Tidak boleh seseorang memalingkan doa kepada selain Allah, sekalipun yang dimaksud adalah malaikat yang dekat dengan Allah ataupun nabi dan rasul. Oleh karena itu, jangan sampai seseorang menjadikan kedudukan Nabi ﷺ sebagai alasan untuk memalingkan doa kepada beliau setelah wafatnya.
Adapun ketika seseorang berziarah ke makam Nabi ﷺ, amalan yang disyariatkan adalah mengucapkan salam dan bershalawat kepada beliau, bukan menjadikan makam tersebut sebagai tempat meminta dan memanjatkan permohonan kepada Nabi.
Pemateri menegaskan kembali bahwa riwayat Bilal bin Harits tersebut masih perlu diperiksa lebih lanjut. Beliau belum memberikan keputusan akhir mengenai autentisitas riwayat itu dalam sesi kajian ini.
Wallahu a'lam bish-shawab.
8. Penutup
Sebagai penutup majelis ilmu, dibacakan doa kafaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Subhānakallāhumma wa bihamdika, asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik.
"Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu."
Demikian rangkaian kajian pada kesempatan ini. Semoga ilmu yang telah disampaikan memberikan manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa memperbaiki kualitas ibadah serta menggantungkan seluruh permohonan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jazakumullahu khairan. Barakallahu fikum.
Poster Ringkasan

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم